Membuka Tirai Kebenaran

Ketua MKKS SMP Kabupaten Sukoharjo Bambang Eko Putro SN: Pendidikan Daring di Sekolah Banyak Hadapi Kendala

2 min read

Bambang Eko Putro SN Ketua MKKS SMP Kabupaten Sukoharjo

SUKOHARJO, Sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sejak menghabiskan pandemi COVID-19 masih memiliki sebagian tantangan. Tak sedikit para siswa yang akhirnya tidak dapat mengikuti kegiatan belajar karena tak memiliki gawai sebagai alat penunjang.

Masalah itu bahkan juga terjadia para siswa dapat dengan mudah belajar dengan menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh. Sebab, di masa pandemi seperti ini, proses belajar tatap muka ditiadakan dan diganti belajar jarak jauh.

Saat di konfirmasi media ini Ketua MKKS SMP Kabupaten Sukoharjo Bambang Eko Putro SN mengemukakan, Pada masa pandemi Covid-19, kesehatan dan keselamatan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan adalah yang paling utama. Untuk itu dia berharap pendidikan daring bisa di laksanakan se efektif mungkin dengan memperhatikan sarana dan prasarananya.

“Meluasnya penyebaran Covid-19 telah memaksa pemerintah untuk menutup sekolah-sekolah dan mendorong pembelajaran jarak jauh di rumah. Berbagai inisiatif dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung meskipun tidak adanya sesi tatap muka langsung, “jelas Bambang, Rabu (23/07/2020).

Menurut dia, teknologi, lebih spesifiknya internet, ponsel pintar, dan laptop sekarang digunakan secara luas untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.

“Ini yang menjadi kendala utama, yakni ada beberapa siswa yang tidak memiliki ponsel dan laptop sendiri, letak geografis yang jauh dari jaringan seluler juga berpengaruh. Tidak semua orang tua memiliki SDM yang mampu untuk mahami IT, sehingga tidak mampu untuk membimbing putra-putrinya mengikuti pembelajaran daring. Sehingga para pendidik harus berpikir keras dan memunculkan ide kreatifitas sendiri, ” Ungkapnya.

“Gangguan terhadap sistem pendidikan daring ini dalam kondisi tidak normal, sudah menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan. Sekarang mereka perlu menghadapi hambatan tambahan yang muncul akibat ketidaksetaraan untuk mengakses infrastruktur teknologi, ” Tambahnya lagi.

Jika di lihat dari segi topografi Indonesia yang berupa kepulauan dan pegunungan, membutuhkan pengadaan internet dan telekomunikasi seluler.

Akan tetapi, jangkauan 4G kebanyakan terkonsentrasi di Pulau Jawa, karena penyedia layanan telekomunikasi seluler, yang sangat bergantung pada pasar, tentu saja memprioritaskan daerah-daerah perkotaan ketimbang daerah pedesaan yang populasinya lebih sesedikit.

“Hal inilah yang membuat kesenjangan konektivitas berdampak pada siswa yang berasal dari keluarga prasejahtera, mereka yang tinggal di daerah pedesaan di luar Jawa sangat tidak diuntungkan, ” Urai Bambang. (Red)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.