Membuka Tirai Kebenaran

Mengenang Pontjopangrawit, Pejuang yang ‘Hilang’ di Hari Pahlawan

1 min read

LINTASINDONEWS.com, SOLO – Nama Pontjopangrawit menjadi legenda di kalangan pelaku seni karawitan atau musik gamelan. Bukan hanya karena kelihaiannya bermain gamelan, namun juga karena ikut berjuang melawan Belanda.

Lahir dengan nama Slamet Soekari pada 1893, Pontjo sejak kecil mengabdi pada Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pengrawit atau pemain gamelan. Saat dewasa, dia memperoleh gelar ‘Raden’ dan berubah nama menjadi Pontjopangrawit.

Berusia 20-an tahun, Pontjo mulai aktif dalam kegiatan politik. Meski seorang priayi keraton, dia bergabung ke kelompok kiri. Pontjo memiliki pemikiran keras untuk melawan kolonialisme.

Beliau punya kesadaran kritis terhadap nasib wong cilik. Ideologinya berbeda dengan organisasi priayi Kasunanan, Narpawandawa dan Boedi Utomo, yang relatif kurang ‘galak’,” kata sejarawan Surakarta, Heri Priyatmoko, Minggu (10/11/2019).

Memang tidak wajar ketika seorang priayi istana bergabung dengan kelompok kiri. Kata Heri, hampir tidak ada priayi istana yang ikut kelompok tersebut.

“Karena aktivitas politiknya, Pontjo dibui di Boven Digoel (sebuah tempat pengasingan di Papua) sekitar tahun 1930. Saat itu politik kolonial begitu represif,” ujar dosen Sanata Dharma Yogyakarta itu.( seno)

Sumber: detiknews

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.