Merek Kelas 41 Jadi Sorotan, PSHT Pusat Madiun Ungkap Ada Pendaftaran Baru Saat Merek Lama Masih Berlaku

Merek Kelas 41 Jadi Sorotan, PSHT Pusat Madiun Ungkap Ada Pendaftaran Baru Saat Merek Lama Masih Berlaku

Loading

SUARA PSHT

MADIUN — Pengurus Pusat Setia Hati Terate (PSHT) menaruh perhatian serius terhadap terdaftarnya merek “PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE + LOGO” pada Kelas 41 sebagaimana tercantum dalam Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI).
Berdasarkan dokumen yang dimiliki Pengurus Pusat, merek tersebut tercatat dengan Nomor Registrasi IDM001503116, dengan permohonan JID2025104718 yang diajukan pada 7 Oktober 2025. Merek tersebut kemudian tercatat terdaftar pada 4 September 2026.

Lapor KPK

Baca Juga:


Persoalan ini menjadi perhatian karena sebelumnya telah terdapat merek “SETIA HATI TERATE” Kelas 41 atas nama H. Issoebijantoro, SH, dengan Nomor Pendaftaran IDM000142233.
Dalam dokumen perpanjangan yang dimiliki Pusat, perlindungan terhadap merek tersebut tercatat masih berlaku hingga 23 Maret 2036.


Artinya, saat permohonan merek baru diajukan pada 7 Oktober 2025, terdapat merek Kelas 41 yang telah lebih dahulu terdaftar dan masih berada dalam masa perlindungan.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Pengurus Pusat PSHT untuk melakukan kajian dan pemeriksaan hukum secara menyeluruh.

Sosialisasi Polisi


Hal yang menjadi perhatian antara lain mengenai persamaan nama, logo, jenis jasa yang dilindungi, urutan hak, serta proses pendaftaran merek baru.
Sebab, kedua merek sama-sama tercatat pada Kelas 41 dan sama-sama menggunakan unsur nama “Setia Hati Terate”.


Meski demikian, Pengurus Pusat PSHT menegaskan tidak ingin terburu-buru menyimpulkan telah terjadi pelanggaran hukum.
Menurut Pusat, justru karena terdapat fakta dan dokumen yang perlu dibandingkan, persoalan tersebut harus mendapatkan kepastian hukum secara terang.


Ketua LHA Pusat menyampaikan, pihaknya akan menelaah secara serius seluruh dokumen kedua merek.


Kajian tersebut mencakup uraian jasa yang tercantum dalam Kelas 41 hingga logo yang digunakan dalam masing-masing pendaftaran.


“Yang kami persoalkan bukan sekadar adanya merek baru. Yang harus dijelaskan adalah bagaimana mungkin terdapat merek Kelas 41 yang diajukan kemudian, sementara sebelumnya telah ada merek SETIA HATI TERATE Kelas 41 yang masih memperoleh perlindungan sampai 23 Maret 2036,” demikian sikap Pusat.


Pusat Akan Cermati Proses Pemeriksaan Merek
Pengurus Pusat PSHT juga akan memastikan apakah proses pemeriksaan substantif terhadap merek baru tersebut telah mempertimbangkan keberadaan merek yang sebelumnya telah terdaftar.


Apabila hasil kajian nantinya menunjukkan adanya persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk jasa yang sama atau sejenis serta memenuhi unsur hukum lainnya, Pusat akan mempertimbangkan langkah hukum yang tersedia.


Salah satunya adalah menempuh mekanisme pembatalan merek melalui Pengadilan Niaga, apabila berdasarkan kajian hukum langkah tersebut dinilai memenuhi dasar dan ketentuan yang berlaku.


Pusat menegaskan, langkah tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan konflik antarsesama warga.


Sebaliknya, upaya itu disebut sebagai bagian dari ikhtiar organisasi untuk memperoleh kepastian hukum sekaligus memberikan perlindungan terhadap hak yang diyakini telah ada berdasarkan dokumen yang sah.


Warga PSHT Diminta Tetap Tenang
Di tengah munculnya persoalan tersebut, Pengurus Pusat PSHT meminta seluruh cabang dan warga Setia Hati Terate agar tetap tenang.
Warga juga diminta tidak melakukan tindakan sendiri-sendiri maupun mudah terprovokasi.
Seluruh bukti dan dokumen, kata Pusat, akan dikaji secara profesional. Selanjutnya, langkah organisasi akan disampaikan melalui mekanisme resmi.


Pengurus Pusat menyatakan tetap menghormati hukum dan lembaga negara.
Namun di sisi lain, Pusat juga menyatakan memiliki kewajiban untuk memperjuangkan hak hukum yang diyakini dimiliki berdasarkan dokumen yang sah.


“Diam bukan berarti menyerah. Menahan diri bukan berarti kehilangan sikap.”
Persoalan tersebut akan ditempuh melalui jalur hukum, organisasi, serta komunikasi publik yang terukur dengan tetap menjaga ketertiban dan marwah persaudaraan.
Amriza Khoirul Fachri, S.H., anggota Tim LHA Pusat Madiun, menegaskan pihaknya tidak mencari konflik.


“Kami tidak mencari konflik. Kami mencari kepastian hukum. Jika hak yang lebih dahulu memang terbukti ada, maka hak tersebut harus dihormati dan dilindungi sesuai hukum.”


Madiun, 9 September 2026
Pengurus Pusat Setia Hati Terate


BREAKING NEWS

TRANDING

  • Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan

    Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan

    SUARA ORMAS SRAGEN — Pembangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Sapu Jagad di wilayah Gemolong, Sragen, terus bergulir. Proses pengecoran tiang bangunan yang dilakukan pada Rabu, 10 September 2026, berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak. Semangat gotong royong terlihat dalam proses pembangunan tersebut. Sejumlah insan pers, pembina nasional Sapu Jagad, serta sejumlah pihak yang tergabung dalam wadah…

  • Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak

    Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak

    di Sanggar Anak Tumbuh Bantul Dosen pembimbing, mahasiswa PPG UST, dan anak-anak Sanggar Anak Tumbuh dalam kegiatan Projek Kepemimpinan PELITA-LENTERA di Bantul.  BANTUL – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) melaksanakan Projek Kepemimpinan “PELITA LENTERA (Program Edukatif Literasi Numerasi Terintegrasi untuk Anak – Ludo Edukatif Terpadu Literasi dan Numerasi) pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sebuah media belajar berbasis permainan ludo yang dipadukan dengan kartu literasi, kartu numerasi, kartu bonus, dan QR Code menuju e-Library. Program ini digagas oleh mahasiswa PPG UST Kelompok C PGSD 004 di bawah bimbingan Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd., dan dilaksanakan bersama Komunitas Sanggar Anak Tumbuh di Bantul sebagai bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG.  Baca Juga: Program ini hadir sebagai upaya menumbuhkan kemampuan literasi dan numerasi anak melalui PELITA (Program Edukatif Literasi Numerasi Terintegrasi untuk Anak) dengan memanfaatkan media inovatif LENTERA (Ludo Edukatif Terpadu Literasi dan Numerasi). Program tersebut dirancang berdasarkan tingginya antusiasme anak-anak di Komunitas Baca Sanggar Anak Tumbuh untuk mengikuti kegiatan belajar, namun belum diimbangi dengan media pembelajaran yang interaktif dan mampu memadukan literasi serta numerasi.  Menjawab persoalan tersebut, di bawah arahan Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd., mahasiswa PPG UST merancang LENTERA sebagai media pembelajaran berbasis permainan yang memadukan papan ludo, kartu literasi, kartu numerasi, kartu bonus, serta QR Code yang terhubung langsung dengan e-Library. Perpaduan ini dirancang agar anak dapat berlatih membaca dan berhitung sambil bermain secara aktif, menyenangkan, dan kolaboratif sekaligus menjadi wahana pengembangan jiwa kepemimpinan mahasiswa melalui inisiatif, komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, inovasi, tanggung jawab, dan refleksi.  Pelaksanaan program dirancang secara partisipatif melalui tiga tahapan utama: perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Pada tahap implementasi, tim mahasiswa PPG UST menggunakan pendekatan pelatihan, pendampingan, dan Play Based Learning, di mana anak-anak diajak bermain ludo edukatif secara berkelompok sembari didampingi fasilitator dari mahasiswa PPG dan pengelola komunitas. Kartu literasi dan numerasi yang diperoleh peserta di setiap putaran permainan dirancang berjenjang, sehingga tantangan yang dihadapi anak disesuaikan dengan kemampuan awal mereka.  Pada tahap evaluasi, tim mahasiswa PPG UST menyusun lembar observasi dan kuesioner yang melibatkan peserta, fasilitator, dan pengelola komunitas untuk mengukur sejumlah indikator: partisipasi, kemampuan literasi dan numerasi, motivasi, antusiasme, komunikasi, kolaborasi, hingga kebermanfaatan program secara keseluruhan.  Anak-anak bermain sekaligus belajar literasi dan numerasi melalui papan ludo raksasa LENTERA   Kegiatan yang dikemas dengan konsep belajar sambil bermain tersebut mendapat respons positif dari peserta di antaranya meningkatnya keterlibatan, interaksi antaranak, kerja sama dalam kelompok, serta antusiasme yang lebih tinggi dibanding metode belajar sebelumnya. Suasana belajar yang tercipta pun menjadi lebih aktif, hangat, dan menyenangkan, tanpa mengurangi esensi penguatan literasi dan numerasi yang menjadi tujuan utama program. Selain itu, pengelola komunitas Sanggar Anak Tumbuh juga memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dibawa mahasiswa melalui program tersebut.   “Menurut kami sebagai pengelola komunitas, ide dari program PELITA melalui media LENTERA ini sangat inovatif. Bahkan, kami sebagai pengelola komunitas sebelumnya tidak terpikir untuk menghadirkan media pembelajaran seperti ini. Program PELITA-LENTERA sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak bermain sekaligus belajar. Dengan pendekatan tersebut, anak-anak menjadi lebih antusias dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi mereka,”  ungkap Atina (pengelola Komunitas Sanggar Anak Tumbuh, Bantul).  Bagi mahasiswa PPG UST, program ini memberi pengalaman nyata dalam merencanakan, mengorganisasi, memfasilitasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, hingga mengevaluasi sebuah kegiatan. Hal tersebut menjadi bekal penting sebagai calon guru profesional yang tidak hanya cakap mengajar di kelas, tetapi juga mampu membaca kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Bimbingan langsung dari Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd. turut memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai kaidah akademik, mulai dari perumusan masalah, perancangan media, hingga evaluasi dampak, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk berinovasi secara mandiri.  Kolaborasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa PPG UST dalam program ini juga mencerminkan model pembelajaran berbasis proyek kepemimpinan yang menjadi salah satu ciri khas Pendidikan Profesi Guru di UST, di mana mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi penggerak perubahan (agent of change) di lingkungan pendidikan tempat mereka mengabdi.  Dengan pencapaian ini, PELITA LENTERA menegaskan peran Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dalam mencetak calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan solusi pembelajaran yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak nyata. Ke depan, tim mahasiswa PPG UST berharap model media pembelajaran LENTERA dapat direplikasi di komunitas belajar maupun sekolah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam penguatan literasi dan numerasi anak.  BREAKING NEWS

  • Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan

    Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan

    JEJA KASUS KARANGANYAR – Polemik mengenai penghimpunan dana dari wali murid di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Karanganyar memasuki babak baru. Setelah sebelumnya muncul keluhan mengenai iuran pembangunan hingga program tabungan siswa, Komite Madrasah bersama pihak MIN 1 Karanganyar menerbitkan surat edaran tertanggal 7 September 2026. Surat bernomor 08/Komite/09/2026 itu secara tegas menyatakan bahwa angka…