![]()
SUARA DESA
SRAGEN – Pagi di desa selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di antara hamparan sawah, jalan desa, dan aktivitas warga yang berjalan sederhana, ada sebuah harapan yang terus dirawat: bagaimana desa bisa tumbuh bukan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kebersamaan.
Itulah yang coba dilakukan Iswanto, Kepala Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Bagi Iswanto, membangun desa bukan sekadar menyelesaikan proyek pembangunan. Lebih dari itu, pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
Ia menyebut pembangunan di Desa Saradan saat ini untuk gedung kesenian telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah pembangunan infrastruktur telah diselesaikan, sementara beberapa pekerjaan lainnya masih terus diupayakan.

Baca Juga:
- Foto 6 Oktober Masih Ada Sapi, Kini Kandang Sepi: Ke Mana 9 Ekor Bantuan Ternak Sragen?
- Ngargotirto di Kawasan Waduk Kedungombo, Ratusan Keramba Ikan Gerakkan Ekonomi Warga
- Terima SK Periode 2026–2031, LPER Semarang Raya Bidik Kolaborasi dengan Pemerintah dan Pelaku UMKM
- Api Melalap Tumpukan Rosok di Kartasura, Puluhan Armada Pemadam Dikerahkan
- Bantuan Revitalisasi Rp448,3 Juta, MCK KB Harapan Bangsa Disorot soal Batas Tanah dan Dugaan Pemborongan
Salah satunya pembangunan saluran irigasi desa yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
“Menurut kami, pembangunan di Desa Saradan sudah banyak yang terlampaui. Tinggal beberapa bagian lagi yang harus di selesaikan,” ujar Iswanto.
Sejumlah ruas jalan juga telah mendapatkan perhatian. Pembangunan di RT 15 disebut telah selesai, begitu pula pengaspalan jalan di RW 2.
Namun bagi Iswanto, wajah desa tidak hanya dibentuk oleh jalan dan infrastruktur. Seni dan budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang ingin terus dipertahankan.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, Iswanto ternyata tetap menyempatkan diri menyentuh kehidupan yang lebih dekat dengan tanah.
Ia memiliki lahan pertanian sekitar empat hektare yang ditanami padi dan palawija.
Sawah baginya bukan sekadar lahan untuk menghasilkan panen. Dari aktivitas tersebut, ada kesempatan kerja yang bisa dibagikan kepada warga.
Warga yang belum memiliki pekerjaan tetap dapat ikut bekerja sebagai buruh tani. Dengan begitu, aktivitas pertanian tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan pertanian ini juga bisa memberikan kesempatan kepada warga untuk ikut bekerja. Terutama bagi warga yang belum mempunyai pekerjaan, mereka bisa ikut menjadi buruh tani dan mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Di situlah sisi lain seorang kepala desa terlihat.
Di balik meja pemerintahan desa, ada seorang petani yang masih akrab dengan tanah dan tanaman. Ia tidak ingin pembangunan berhenti pada angka-angka, melainkan bagaimana keberadaannya bisa memberi manfaat bagi warga.
Iswanto pun tidak memasang harapan yang muluk-muluk.
Ia hanya ingin masyarakat Desa Sasaratan tetap menjadi masyarakat yang guyub, rukun dan gemar bergotong royong.
Menurutnya, kemajuan desa tidak mungkin hanya ditopang oleh pemerintah desa. Dibutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat untuk saling membantu dan bahu-membahu.
“Harapan saya, warga Desa Saradan bisa guyub, rukun, dan gotong royong. Mari bersama-sama membangun Desa Sasaratan, saling membantu dan bahu-membahu untuk memajukan desa,” tuturnya.
Sebab, bagi Iswanto, desa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak bangunan yang berdiri.
Desa adalah tentang orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tentang petani yang tetap menggarap sawah, tentang warga yang saling membantu ketika membutuhkan, tentang jalan yang dibangun agar semakin mudah dilalui, dan tentang semangat gotong royong yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Saradan, pembangunan perlahan berjalan.
Namun yang ingin terus dijaga Iswanto adalah satu hal sederhana: jangan sampai pembangunan membuat warga kehilangan rasa kebersamaan.
Karena desa yang maju bukan hanya desa yang jalannya mulus dan irigasinya baik, tetapi juga desa yang warganya masih mau duduk bersama, bekerja bersama, dan tumbuh bersama.
Tim/Red
BREAKING NEWS
-
Foto 6 Oktober Masih Ada Sapi, Kini Kandang Sepi: Ke Mana 9 Ekor Bantuan Ternak Sragen? -
Ngargotirto di Kawasan Waduk Kedungombo, Ratusan Keramba Ikan Gerakkan Ekonomi Warga -
Terima SK Periode 2026–2031, LPER Semarang Raya Bidik Kolaborasi dengan Pemerintah dan Pelaku UMKM -
Api Melalap Tumpukan Rosok di Kartasura, Puluhan Armada Pemadam Dikerahkan -
Bantuan Revitalisasi Rp448,3 Juta, MCK KB Harapan Bangsa Disorot soal Batas Tanah dan Dugaan Pemborongan
TRANDING
-
Foto 6 Oktober Masih Ada Sapi, Kini Kandang Sepi: Ke Mana 9 Ekor Bantuan Ternak Sragen?
LINTASINDONEWS SRAGEN, Lintasindonews.com — Keberadaan bantuan ternak sapi untuk Kelompok Ternak SRI LUWIH di wilayah Kleco Kulon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, menjadi sorotan setelah tim aktivis melaporkan perubahan kondisi kandang dalam rentang waktu beberapa hari. Baca Juga: Berdasarkan dokumentasi yang diterima redaksi, pada Selasa (6/10/2026), sejumlah sapi masih terlihat berada di kandang kelompok…
-
Ngargotirto di Kawasan Waduk Kedungombo, Ratusan Keramba Ikan Gerakkan Ekonomi Warga
LINTASINDONEWS SRAGEN, Lintasindonews.com — Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, memiliki potensi perikanan air tawar yang menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat. Berada di kawasan Waduk Kedungombo, desa ini dikenal dengan aktivitas budidaya ikan menggunakan keramba yang melibatkan banyak pelaku usaha dan tenaga kerja lokal. Selain itu juga pertanian ada sekitar 156 petani.…
-
Terima SK Periode 2026–2031, LPER Semarang Raya Bidik Kolaborasi dengan Pemerintah dan Pelaku UMKM
LINTASINDONEWS SEMARANG – Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) Cabang Semarang Raya resmi menerima Surat Keputusan (SK) kepengurusan periode 2026–2031. Dengan diterimanya SK tersebut, organisasi ini bersiap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai elemen masyarakat untuk mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat. SK kepengurusan diserahkan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP LPER, Prof. Dr. Dra. Francisca Sestri…




