![]()
SUARA DESA
SRAGEN – Pagi di desa selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di antara hamparan sawah, jalan desa, dan aktivitas warga yang berjalan sederhana, ada sebuah harapan yang terus dirawat: bagaimana desa bisa tumbuh bukan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kebersamaan.
Itulah yang coba dilakukan Iswanto, Kepala Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Bagi Iswanto, membangun desa bukan sekadar menyelesaikan proyek pembangunan. Lebih dari itu, pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
Ia menyebut pembangunan di Desa Saradan saat ini untuk gedung kesenian telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah pembangunan infrastruktur telah diselesaikan, sementara beberapa pekerjaan lainnya masih terus diupayakan.

Baca Juga:
- Ketika Gula Habis, Semut Pun Tak Lagi Mendekat
- Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual
- Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan
- SETELAH GEMOLONG DAN KALIJAMBE, KINI TANON DISOROT! Motor Kades Karangasem Terlihat Berpelat Putih, Jawaban “Nanti Kalau Longgar” Mengundang Pertanyaan
- 93 Titik P3TGAI di Wonogiri Aliri 2.661,5 Hektare Lahan, Dukung Ketahanan Pangan
Salah satunya pembangunan saluran irigasi desa yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
“Menurut kami, pembangunan di Desa Saradan sudah banyak yang terlampaui. Tinggal beberapa bagian lagi yang harus di selesaikan,” ujar Iswanto.
Sejumlah ruas jalan juga telah mendapatkan perhatian. Pembangunan di RT 15 disebut telah selesai, begitu pula pengaspalan jalan di RW 2.
Namun bagi Iswanto, wajah desa tidak hanya dibentuk oleh jalan dan infrastruktur. Seni dan budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang ingin terus dipertahankan.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, Iswanto ternyata tetap menyempatkan diri menyentuh kehidupan yang lebih dekat dengan tanah.
Ia memiliki lahan pertanian sekitar empat hektare yang ditanami padi dan palawija.
Sawah baginya bukan sekadar lahan untuk menghasilkan panen. Dari aktivitas tersebut, ada kesempatan kerja yang bisa dibagikan kepada warga.
Warga yang belum memiliki pekerjaan tetap dapat ikut bekerja sebagai buruh tani. Dengan begitu, aktivitas pertanian tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan pertanian ini juga bisa memberikan kesempatan kepada warga untuk ikut bekerja. Terutama bagi warga yang belum mempunyai pekerjaan, mereka bisa ikut menjadi buruh tani dan mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Di situlah sisi lain seorang kepala desa terlihat.
Di balik meja pemerintahan desa, ada seorang petani yang masih akrab dengan tanah dan tanaman. Ia tidak ingin pembangunan berhenti pada angka-angka, melainkan bagaimana keberadaannya bisa memberi manfaat bagi warga.
Iswanto pun tidak memasang harapan yang muluk-muluk.
Ia hanya ingin masyarakat Desa Sasaratan tetap menjadi masyarakat yang guyub, rukun dan gemar bergotong royong.
Menurutnya, kemajuan desa tidak mungkin hanya ditopang oleh pemerintah desa. Dibutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat untuk saling membantu dan bahu-membahu.
“Harapan saya, warga Desa Saradan bisa guyub, rukun, dan gotong royong. Mari bersama-sama membangun Desa Sasaratan, saling membantu dan bahu-membahu untuk memajukan desa,” tuturnya.
Sebab, bagi Iswanto, desa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak bangunan yang berdiri.
Desa adalah tentang orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tentang petani yang tetap menggarap sawah, tentang warga yang saling membantu ketika membutuhkan, tentang jalan yang dibangun agar semakin mudah dilalui, dan tentang semangat gotong royong yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Saradan, pembangunan perlahan berjalan.
Namun yang ingin terus dijaga Iswanto adalah satu hal sederhana: jangan sampai pembangunan membuat warga kehilangan rasa kebersamaan.
Karena desa yang maju bukan hanya desa yang jalannya mulus dan irigasinya baik, tetapi juga desa yang warganya masih mau duduk bersama, bekerja bersama, dan tumbuh bersama.
Tim/Red
BREAKING NEWS
-
Ketika Gula Habis, Semut Pun Tak Lagi Mendekat -
Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual -
Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan -
SETELAH GEMOLONG DAN KALIJAMBE, KINI TANON DISOROT! Motor Kades Karangasem Terlihat Berpelat Putih, Jawaban “Nanti Kalau Longgar” Mengundang Pertanyaan -
93 Titik P3TGAI di Wonogiri Aliri 2.661,5 Hektare Lahan, Dukung Ketahanan Pangan
TRANDING
-
Ketika Gula Habis, Semut Pun Tak Lagi Mendekat
OPINI Catatan perjalanan hidup — Edot Adsant 18 Januari 2026 menjadi salah satu tanggal yang tidak akan mudah terhapus dari ingatan saya. Sebuah peristiwa yang mengubah banyak hal dalam perjalanan hidup. Saya mengalami kerugian akibat penipuan dalam bisnis konvensional bersama rekan, dengan nilai lebih dari setengah miliar rupiah. Sebelum peristiwa itu terjadi, kehidupan berjalan sebagaimana…
-
Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual
BOYOLALI – Di tengah kehidupan masyarakat modern, sebuah tempat di Dusun Gagatan, Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, masih menyimpan cerita sejarah dan tradisi yang menarik untuk ditelusuri. Tempat tersebut dikenal dengan nama Punthuk Gagatan. BACA JUGA: Bukan sekadar gundukan tanah atau lokasi yang memiliki nilai sejarah lokal, Punthuk Gagatan hingga kini masih dikunjungi masyarakat…
-
Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan
LINTASINDONEWS BOYOLALI – Pembangunan talud jalan di Desa Krobokan, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, yang dibiayai Dana Desa (DD) tahun anggaran 2026 senilai Rp90 juta, mulai menjadi sorotan. Bukan hanya terkait kualitas fisik bangunan, tetapi juga menyangkut kejelasan status lahan yang digunakan, lantaran lokasi pembangunan disebut berada di atas tanah milik Perhutani. Persoalan tersebut semakin menarik…




