![]()
SUARA DESA
SRAGEN – Pagi di desa selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di antara hamparan sawah, jalan desa, dan aktivitas warga yang berjalan sederhana, ada sebuah harapan yang terus dirawat: bagaimana desa bisa tumbuh bukan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kebersamaan.
Itulah yang coba dilakukan Iswanto, Kepala Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Bagi Iswanto, membangun desa bukan sekadar menyelesaikan proyek pembangunan. Lebih dari itu, pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
Ia menyebut pembangunan di Desa Saradan saat ini untuk gedung kesenian telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah pembangunan infrastruktur telah diselesaikan, sementara beberapa pekerjaan lainnya masih terus diupayakan.

Baca Juga:
- Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan
- Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak
- Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan
- Merek Kelas 41 Jadi Sorotan, PSHT Pusat Madiun Ungkap Ada Pendaftaran Baru Saat Merek Lama Masih Berlaku
- Kisah Iswanto Kepala Desa Saradan: Membangun Saradan dengan Guyub Rukun dan Gotong Royong
Salah satunya pembangunan saluran irigasi desa yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
“Menurut kami, pembangunan di Desa Saradan sudah banyak yang terlampaui. Tinggal beberapa bagian lagi yang harus di selesaikan,” ujar Iswanto.
Sejumlah ruas jalan juga telah mendapatkan perhatian. Pembangunan di RT 15 disebut telah selesai, begitu pula pengaspalan jalan di RW 2.
Namun bagi Iswanto, wajah desa tidak hanya dibentuk oleh jalan dan infrastruktur. Seni dan budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang ingin terus dipertahankan.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, Iswanto ternyata tetap menyempatkan diri menyentuh kehidupan yang lebih dekat dengan tanah.
Ia memiliki lahan pertanian sekitar empat hektare yang ditanami padi dan palawija.
Sawah baginya bukan sekadar lahan untuk menghasilkan panen. Dari aktivitas tersebut, ada kesempatan kerja yang bisa dibagikan kepada warga.
Warga yang belum memiliki pekerjaan tetap dapat ikut bekerja sebagai buruh tani. Dengan begitu, aktivitas pertanian tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan pertanian ini juga bisa memberikan kesempatan kepada warga untuk ikut bekerja. Terutama bagi warga yang belum mempunyai pekerjaan, mereka bisa ikut menjadi buruh tani dan mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Di situlah sisi lain seorang kepala desa terlihat.
Di balik meja pemerintahan desa, ada seorang petani yang masih akrab dengan tanah dan tanaman. Ia tidak ingin pembangunan berhenti pada angka-angka, melainkan bagaimana keberadaannya bisa memberi manfaat bagi warga.
Iswanto pun tidak memasang harapan yang muluk-muluk.
Ia hanya ingin masyarakat Desa Sasaratan tetap menjadi masyarakat yang guyub, rukun dan gemar bergotong royong.
Menurutnya, kemajuan desa tidak mungkin hanya ditopang oleh pemerintah desa. Dibutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat untuk saling membantu dan bahu-membahu.
“Harapan saya, warga Desa Saradan bisa guyub, rukun, dan gotong royong. Mari bersama-sama membangun Desa Sasaratan, saling membantu dan bahu-membahu untuk memajukan desa,” tuturnya.
Sebab, bagi Iswanto, desa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak bangunan yang berdiri.
Desa adalah tentang orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tentang petani yang tetap menggarap sawah, tentang warga yang saling membantu ketika membutuhkan, tentang jalan yang dibangun agar semakin mudah dilalui, dan tentang semangat gotong royong yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Saradan, pembangunan perlahan berjalan.
Namun yang ingin terus dijaga Iswanto adalah satu hal sederhana: jangan sampai pembangunan membuat warga kehilangan rasa kebersamaan.
Karena desa yang maju bukan hanya desa yang jalannya mulus dan irigasinya baik, tetapi juga desa yang warganya masih mau duduk bersama, bekerja bersama, dan tumbuh bersama.
Tim/Red
BREAKING NEWS
-
Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan -
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak -
Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan -
Merek Kelas 41 Jadi Sorotan, PSHT Pusat Madiun Ungkap Ada Pendaftaran Baru Saat Merek Lama Masih Berlaku -
Kisah Iswanto Kepala Desa Saradan: Membangun Saradan dengan Guyub Rukun dan Gotong Royong
TRANDING
-
Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan
SUARA ORMAS SRAGEN — Pembangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Sapu Jagad di wilayah Gemolong, Sragen, terus bergulir. Proses pengecoran tiang bangunan yang dilakukan pada Rabu, 10 September 2026, berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak. Semangat gotong royong terlihat dalam proses pembangunan tersebut. Sejumlah insan pers, pembina nasional Sapu Jagad, serta sejumlah pihak yang tergabung dalam wadah…
-
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak
di Sanggar Anak Tumbuh Bantul Dosen pembimbing, mahasiswa PPG UST, dan anak-anak Sanggar Anak Tumbuh dalam kegiatan Projek Kepemimpinan PELITA-LENTERA di Bantul. BANTUL – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) melaksanakan Projek Kepemimpinan “PELITA LENTERA (Program Edukatif Literasi Numerasi Terintegrasi untuk Anak – Ludo Edukatif Terpadu Literasi dan Numerasi) pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sebuah media belajar berbasis permainan ludo yang dipadukan dengan kartu literasi, kartu numerasi, kartu bonus, dan QR Code menuju e-Library. Program ini digagas oleh mahasiswa PPG UST Kelompok C PGSD 004 di bawah bimbingan Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd., dan dilaksanakan bersama Komunitas Sanggar Anak Tumbuh di Bantul sebagai bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG. Baca Juga: Program ini hadir sebagai upaya menumbuhkan kemampuan literasi dan numerasi anak melalui PELITA (Program Edukatif Literasi Numerasi Terintegrasi untuk Anak) dengan memanfaatkan media inovatif LENTERA (Ludo Edukatif Terpadu Literasi dan Numerasi). Program tersebut dirancang berdasarkan tingginya antusiasme anak-anak di Komunitas Baca Sanggar Anak Tumbuh untuk mengikuti kegiatan belajar, namun belum diimbangi dengan media pembelajaran yang interaktif dan mampu memadukan literasi serta numerasi. Menjawab persoalan tersebut, di bawah arahan Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd., mahasiswa PPG UST merancang LENTERA sebagai media pembelajaran berbasis permainan yang memadukan papan ludo, kartu literasi, kartu numerasi, kartu bonus, serta QR Code yang terhubung langsung dengan e-Library. Perpaduan ini dirancang agar anak dapat berlatih membaca dan berhitung sambil bermain secara aktif, menyenangkan, dan kolaboratif sekaligus menjadi wahana pengembangan jiwa kepemimpinan mahasiswa melalui inisiatif, komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, inovasi, tanggung jawab, dan refleksi. Pelaksanaan program dirancang secara partisipatif melalui tiga tahapan utama: perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Pada tahap implementasi, tim mahasiswa PPG UST menggunakan pendekatan pelatihan, pendampingan, dan Play Based Learning, di mana anak-anak diajak bermain ludo edukatif secara berkelompok sembari didampingi fasilitator dari mahasiswa PPG dan pengelola komunitas. Kartu literasi dan numerasi yang diperoleh peserta di setiap putaran permainan dirancang berjenjang, sehingga tantangan yang dihadapi anak disesuaikan dengan kemampuan awal mereka. Pada tahap evaluasi, tim mahasiswa PPG UST menyusun lembar observasi dan kuesioner yang melibatkan peserta, fasilitator, dan pengelola komunitas untuk mengukur sejumlah indikator: partisipasi, kemampuan literasi dan numerasi, motivasi, antusiasme, komunikasi, kolaborasi, hingga kebermanfaatan program secara keseluruhan. Anak-anak bermain sekaligus belajar literasi dan numerasi melalui papan ludo raksasa LENTERA Kegiatan yang dikemas dengan konsep belajar sambil bermain tersebut mendapat respons positif dari peserta di antaranya meningkatnya keterlibatan, interaksi antaranak, kerja sama dalam kelompok, serta antusiasme yang lebih tinggi dibanding metode belajar sebelumnya. Suasana belajar yang tercipta pun menjadi lebih aktif, hangat, dan menyenangkan, tanpa mengurangi esensi penguatan literasi dan numerasi yang menjadi tujuan utama program. Selain itu, pengelola komunitas Sanggar Anak Tumbuh juga memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dibawa mahasiswa melalui program tersebut. “Menurut kami sebagai pengelola komunitas, ide dari program PELITA melalui media LENTERA ini sangat inovatif. Bahkan, kami sebagai pengelola komunitas sebelumnya tidak terpikir untuk menghadirkan media pembelajaran seperti ini. Program PELITA-LENTERA sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak bermain sekaligus belajar. Dengan pendekatan tersebut, anak-anak menjadi lebih antusias dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi mereka,” ungkap Atina (pengelola Komunitas Sanggar Anak Tumbuh, Bantul). Bagi mahasiswa PPG UST, program ini memberi pengalaman nyata dalam merencanakan, mengorganisasi, memfasilitasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, hingga mengevaluasi sebuah kegiatan. Hal tersebut menjadi bekal penting sebagai calon guru profesional yang tidak hanya cakap mengajar di kelas, tetapi juga mampu membaca kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Bimbingan langsung dari Dr. Akbar Al Masjid, M.Pd. turut memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai kaidah akademik, mulai dari perumusan masalah, perancangan media, hingga evaluasi dampak, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk berinovasi secara mandiri. Kolaborasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa PPG UST dalam program ini juga mencerminkan model pembelajaran berbasis proyek kepemimpinan yang menjadi salah satu ciri khas Pendidikan Profesi Guru di UST, di mana mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi penggerak perubahan (agent of change) di lingkungan pendidikan tempat mereka mengabdi. Dengan pencapaian ini, PELITA LENTERA menegaskan peran Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dalam mencetak calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan solusi pembelajaran yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak nyata. Ke depan, tim mahasiswa PPG UST berharap model media pembelajaran LENTERA dapat direplikasi di komunitas belajar maupun sekolah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam penguatan literasi dan numerasi anak. BREAKING NEWS
-
Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan
JEJA KASUS KARANGANYAR – Polemik mengenai penghimpunan dana dari wali murid di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Karanganyar memasuki babak baru. Setelah sebelumnya muncul keluhan mengenai iuran pembangunan hingga program tabungan siswa, Komite Madrasah bersama pihak MIN 1 Karanganyar menerbitkan surat edaran tertanggal 7 September 2026. Surat bernomor 08/Komite/09/2026 itu secara tegas menyatakan bahwa angka…



