![]()
DUNIA PENDIDIKAN
OPINI, Tahun ajaran baru 2025 kembali dimulai. Ribuan siswa baru kini memasuki gerbang pendidikan formal, baik di tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Namun, euforia tahun ajaran baru sering kali menyembunyikan sisi gelap yang berulang setiap tahun: potensi kerawanan yang mengintai peserta didik baru.
Salah satu isu paling mencolok adalah praktik perploncoan atau bullying berkedok pengenalan lingkungan sekolah. Meskipun Kementerian Pendidikan telah mengganti MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), pada praktiknya masih ditemukan bentuk-bentuk tekanan psikis dan kekerasan verbal terhadap siswa baru.
Tak hanya itu, kerawanan psikologis siswa baru juga patut menjadi perhatian. Mereka berada di fase transisi, sering kali merasa canggung, bingung, atau tertekan. Lingkungan baru, tuntutan prestasi, dan relasi sosial yang belum terbentuk bisa memicu stres hingga gangguan mental jika tidak didampingi dengan bijak.
Belum lagi masalah klasik seperti pungutan liar berkedok sumbangan sukarela, yang kerap memberatkan orang tua siswa, terutama di daerah pinggiran. Padahal, pendidikan dasar dan menengah semestinya bebas pungutan sesuai amanat Undang-Undang.
Digitalisasi di sekolah pun menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, siswa dituntut melek teknologi, namun di sisi lain, belum semua daerah memiliki akses yang merata. Akibatnya, kesenjangan digital antara kota dan desa makin terlihat di awal tahun ajaran baru.
Sudah waktunya para pemangku kebijakan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua memaknai tahun ajaran baru bukan sekadar rutinitas, tapi momentum refleksi. MPLS harus benar-benar mendidik, bukan menekan. Sistem pengawasan harus diperkuat. Kanal aduan harus aktif dan mudah diakses.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. Menjadi siswa baru tak boleh menjadi trauma awal, melainkan awal yang membahagiakan.




- Solidaritas untuk AKJII, Berbagai Elemen Masyarakat Gotong Royong Sukseskan Rapat Pleno di Klaten
- Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Digelar atas Dawuh PB XIV, Masyarakat Diajak Jaga Kesakralan Tradisi
- Setengah Miliar untuk Wisata Desa Wonosegoro, Nol Rupiah untuk PAD? Kasus ini Sudah Masuk Ranah APH, Lantas Kenapa Berhenti?
- Dandim Klaten Tinjau Koperasi Merah Putih di Mireng, 238 Titik Rampung dan 90 Sudah Beroperasi
- Mengawal Demokrasi dari Sragen: Pleno Pertama AKJII di Markas Sapu Jagad Berjalan Lancar
-
Solidaritas untuk AKJII, Berbagai Elemen Masyarakat Gotong Royong Sukseskan Rapat Pleno di Klaten -
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Digelar atas Dawuh PB XIV, Masyarakat Diajak Jaga Kesakralan Tradisi -
Setengah Miliar untuk Wisata Desa Wonosegoro, Nol Rupiah untuk PAD? Kasus ini Sudah Masuk Ranah APH, Lantas Kenapa Berhenti? -
Dandim Klaten Tinjau Koperasi Merah Putih di Mireng, 238 Titik Rampung dan 90 Sudah Beroperasi -
Mengawal Demokrasi dari Sragen: Pleno Pertama AKJII di Markas Sapu Jagad Berjalan Lancar






