Sound Horeg, Cermin Budaya Kaum Pinggiran yang Diolok karena Tak Dipahami

Sound Horeg, Cermin Budaya Kaum Pinggiran yang Diolok karena Tak Dipahami

Loading

👁️Opini|Redaksi ✍️Editor|Rian Derasta 

Fenomena sound horeg kembali menyita perhatian publik. Kali ini bukan karena dentumannya yang mengguncang desa-desa, melainkan karena cibiran tajam dari sebagian warganet yang menyebut pelaku dan penikmatnya sebagai “SDM rendah”. Sebuah label keji yang bukan hanya menyakitkan, tapi juga menggambarkan betapa minimnya empati kita terhadap ekspresi budaya dari kalangan akar rumput.

Pernyataan dari Memed Potensio alias Thomas Alva EdiSound, teknisi sound asal Blitar yang kini dikenal luas karena keberaniannya berbicara di tengah badai komentar negatif, menjadi refleksi penting. Ia menjelaskan bahwa kru sound bukanlah penyelenggara acara, melainkan penyedia jasa yang bekerja sesuai permintaan warga. Namun realitas di lapangan kerap dipelintir dan disalahpahami oleh mereka yang tidak berada di dalam lingkaran itu.

Sound Horeg sebagai Budaya Kaum Pinggiran

Sound horeg lahir dari kultur komunitas pinggiran yang mencari bentuk hiburan rakyat. Ia tumbuh dalam ruang-ruang kosong yang tidak tersentuh fasilitas seni dan budaya arus utama. Ketika gedung pertunjukan, bioskop, atau panggung seni hanya hadir di kota besar, sound horeg hadir sebagai ruang alternatif untuk bersenang-senang, berkumpul, dan bahkan berekspresi.

Sayangnya, suara dari kaum pinggiran ini kerap dianggap polusi, bukan ekspresi. Alih-alih dipahami sebagai bagian dari ekosistem budaya rakyat, sound horeg justru dikriminalisasi secara sosial oleh mereka yang tidak mengenal akar lahirnya.

Antara Kritik dan Hinaan: Batas yang Semakin Kabur

Kritik terhadap kebisingan, gangguan waktu istirahat, hingga ketertiban umum adalah sah. Tetapi ketika kritik berubah menjadi stigmatisasi seperti menyebut para pelaku sebagai “SDM rendah”, maka yang terjadi bukan lagi upaya penyelesaian masalah, melainkan pelecehan sosial.

Di sinilah pentingnya kedewasaan kita dalam bersikap. Kita bisa tidak menyukai dentuman sound horeg, tapi merendahkan orang-orang yang menghidupi profesi itu adalah bentuk kekerasan simbolik yang tak pantas dibenarkan.

Solusi Bukan Penghakiman

Alih-alih menghina, seharusnya publik dan pemerintah bersama-sama mencari solusi. Misalnya, merancang regulasi yang mengatur batas waktu, lokasi, hingga standar kebisingan. Melibatkan komunitas sound seperti Brewog Audio dan para teknisinya dalam penyusunan aturan juga menjadi pendekatan partisipatif yang bijak.

Memberantas kebisingan tanpa membunuh ekspresi adalah tugas yang hanya bisa dilakukan jika kita keluar dari sikap elitis. Sebab, suara rakyat — betapa pun berisiknya — tetaplah bagian dari demokrasi budaya.

Mengembalikan Perspektif Manusiawi

Setiap orang punya hak untuk bekerja, berekspresi, dan menikmati hiburan sesuai cara dan tradisinya. Dalam banyak kasus, pelaku sound horeg adalah pekerja yang profesional, berpengalaman, dan memahami tanggung jawabnya. Yang mereka butuhkan adalah pendampingan, bukan penghakiman; edukasi, bukan olok-olok.

Dan publik, terutama pengguna media sosial, perlu diajak merenung: seberapa sering kita menghina sebelum berusaha memahami?