Sukmo Nyawiji NU Roso: Merawat Tradisi, Menguatkan Solidaritas di Tengah Modernitas

Sukmo Nyawiji NU Roso: Merawat Tradisi, Menguatkan Solidaritas di Tengah Modernitas

Loading

JEJAK SPIRITUAL

Di tengah arus modernisasi yang kerap mendorong masyarakat bergerak seragam dan serba rasional, keberadaan paguyuban seperti Sukmo Nyawiji NU Roso menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup yang kuat. Paguyuban ini hadir bukan semata sebagai ruang berkumpul, melainkan sebagai wadah kebudayaan yang menjaga relasi manusia dengan alam, lingkungan sosial, dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kebiasaan mereka melakukan lelaku atau sesirih di tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai kearifan lokal dapat dibaca sebagai bagian dari cara masyarakat memaknai kehidupan. Dalam perspektif antropologi, praktik semacam ini bukan sekadar ritual, melainkan ekspresi identitas budaya yang menegaskan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada alam, ada sejarah, ada ingatan kolektif, dan ada nilai-nilai yang terus dijaga agar tidak putus di tengah perubahan zaman.

Menariknya, paguyuban ini juga dikenal sering membantu warga yang merasa tengah menghadapi gangguan nonfisik, termasuk urusan pagar rumah dan berbagai kebutuhan yang oleh masyarakat setempat dipahami sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Dalam kacamata sosial, fungsi semacam ini menunjukkan hadirnya solidaritas komunal. Di saat sebagian orang merasa tidak punya tempat mengadu, paguyuban seperti ini menjadi ruang yang memberi rasa tenang, pendampingan, dan penguatan batin.

Tentu, masyarakat modern bisa memandang praktik tersebut dari sudut yang berbeda. Ada yang menilainya sebagai tradisi, ada yang menganggapnya sebagai simbol psikologis, dan ada pula yang menempatkannya sebagai bagian dari kebudayaan yang layak dihormati tanpa harus selalu diperdebatkan. Namun satu hal yang jelas, tradisi yang tumbuh bersama kepedulian sosial sering kali memiliki nilai yang lebih panjang umur dibanding sekadar wacana yang ramai di permukaan.

Di sinilah Sukmo Nyawiji NU Roso menemukan relevansinya. Ia bukan hanya paguyuban, tetapi juga cermin bahwa kebudayaan lokal masih menyimpan fungsi sosial yang nyata. Di dalamnya ada gotong royong, ada empati, ada penghormatan terhadap tradisi, dan ada upaya menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan spiritual yang diyakini masyarakat.

Pada akhirnya, keberadaan paguyuban seperti ini patut dibaca sebagai bagian dari dinamika kebudayaan Indonesia yang majemuk. Modernitas boleh melaju, tetapi akar tradisi tidak harus dicabut. Sebab justru dari akar itulah masyarakat menemukan jati diri, ketenangan, dan rasa memiliki terhadap kehidupan bersama yang lebih utuh. (Cindy)

BREAKING NEWS