![]()
KEARIFAN LOKAL
SRAGEN – Puluhan tahun sempat hilang dari peredaran, kesenian tradisional Rodat asal Kecamatan Miri, Sragen akhirnya bangkit kembali. Tepat pada momen HUT ke-80 RI, Agustus 2025, seni budaya ini dipentaskan kembali di kediaman Awi (53), warga Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, yang juga dikenal sebagai pegiat media.
Ratusan warga berbondong-bondong hadir menyaksikan kebangkitan Rodat yang digelar dalam suasana meriah. Pertunjukan tersebut diinisiasi oleh Awi bersama Robani (58), tokoh seni tradisional asal Desa Bagor, Miri.
Dalam pentas itu, para pemain menghadirkan beragam atraksi memukau. Mulai dari tarian, lantunan syair bernuansa kebajikan, hingga aksi ekstrem seperti menyemburkan api dari mulut, mengangkat kursi dengan gigi, memecahkan genting dengan kepala, bahkan makan beling.
Warisan Leluhur
Robani, salah satu penggerak Rodat, mengatakan kesenian ini telah diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Namun, seiring perkembangan hiburan modern, Rodat sempat mati suri lebih dari 15 tahun.
“Sebenarnya sudah lama berhenti karena tergeser hiburan musik modern. Tapi alhamdulillah bisa hidup lagi. Sekarang anggotanya sudah 30 orang lebih,” ujar Robani.
Ia menekankan bahwa Rodat bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai syiar melalui syair bernuansa Islam Jawa. Karena itu, Robani berharap generasi muda ikut melestarikan warisan budaya tersebut.
Simbol Perlawanan
Sementara itu, Awi menjelaskan bahwa Rodat pada masa lalu tak hanya berfungsi sebagai kesenian, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah.
“Dulu Rodat dijalankan secara sembunyi-sembunyi karena pihak penjajah melarang baris-berbaris dan latihan bela diri bagi pribumi. Atraksi yang ditampilkan merupakan simbol kekebalan menghadapi cacian dan tekanan penjajah,” tutur Awi.
Ia mengungkapkan rasa syukur karena seni tradisional ini bisa bangkit kembali bertepatan dengan Hari Kemerdekaan sekaligus ulang tahun putrinya.
Akan Dikembangkan
Awi menambahkan pihaknya bersama Robani telah menyusun gagasan kreatif untuk mengembangkan Rodat. Konsep kolaborasi dengan seni tradisi lain seperti jathilan, bantengan, hingga debus akan dicoba, tanpa menghilangkan pakem aslinya.
“Generasi muda memang lebih akrab dengan musik modern. Tapi itu bukan penghalang. Kami sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Pemkab, Kodim, dan Polres Sragen agar Rodat bisa tampil dalam event resmi maupun perayaan besar di Sragen,” tegasnya.
Dengan dukungan masyarakat dan pemangku kebijakan, kebangkitan seni Rodat diharapkan tidak hanya sesaat, tetapi menjadi kebanggaan dan identitas budaya Sragen.
Kontributor|Awi




-
Jangan Biarkan Program Irigasi Menjadi Proyek Formalitas, Kepala Desa Jangan Intervensi -
Era Prabowo Menuntut Mutu, Bukan Proyek Asal Jadi Apalagi Jika Ada Oknum Yang Memback Up -
25 Ribu Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah Padati Gedung Dewi Sri Purwodadi, KH Muchtar Mu'thi Tekankan Jaga NKRI dan Perdalam Ilmu Agama -
Diduga Lakukan Pemerasan hingga Tahan SHM, ED Sang Rentenir Warga Kwangen Gemolong Resmi Dilaporkan ke Polisi -
Gotong Royong Mengalir untuk Pembangunan Ponpes SAPU JAGAD Gemolong, Puluhan Relawan dan Donatur Ambil Bagian





- Jangan Biarkan Program Irigasi Menjadi Proyek Formalitas, Kepala Desa Jangan Intervensi
- Era Prabowo Menuntut Mutu, Bukan Proyek Asal Jadi Apalagi Jika Ada Oknum Yang Memback Up
- 25 Ribu Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah Padati Gedung Dewi Sri Purwodadi, KH Muchtar Mu’thi Tekankan Jaga NKRI dan Perdalam Ilmu Agama
- Diduga Lakukan Pemerasan hingga Tahan SHM, ED Sang Rentenir Warga Kwangen Gemolong Resmi Dilaporkan ke Polisi
- Gotong Royong Mengalir untuk Pembangunan Ponpes SAPU JAGAD Gemolong, Puluhan Relawan dan Donatur Ambil Bagian

