Kelas Bawah: Identitas atau Sekadar Label Ekonomi?

Kelas Bawah: Identitas atau Sekadar Label Ekonomi?

Loading

Di tengah derasnya arus pemberitaan tentang kemiskinan, garis kemiskinan, dan indikator ekonomi, kita sering melupakan satu pertanyaan mendasar: apakah “kelas bawah” itu identitas yang melekat, atau sekadar label buatan sistem untuk mengatur cara pandang kita?

Badan Pusat Statistik (BPS) merinci angka, menghitung pengeluaran, lalu menetapkan batas tegas: siapa miskin, siapa menengah, siapa kaya. Media mengutip, publik membicarakan, lalu perlahan-lahan istilah “kelas bawah” bukan lagi sekadar data, melainkan stempel sosial yang menempel di dahi seseorang.

Di sinilah filsafat Stoikisme memberi perspektif lain. Filsuf stoik seperti Epictetus mengingatkan: yang berada dalam kendali kita adalah pikiran dan tindakan, bukan keadaan ekonomi yang sering kali ditentukan oleh faktor di luar diri. Kelas sosial memang menentukan akses — pendidikan, tempat tinggal, kesehatan — tetapi tidak otomatis menentukan martabat atau kebijaksanaan seseorang.

Masalahnya, dalam tatanan modern, “kelas bawah” sering dibentuk bukan hanya oleh angka pendapatan, tetapi juga oleh narasi yang terus diulang. Narasi itu membentuk kesadaran kolektif: kita percaya bahwa kelas bawah identik dengan ketertinggalan, padahal bisa saja justru menyimpan kekuatan komunal, ketahanan hidup, dan kebijaksanaan praktis yang tak dimiliki kelas atas.

Bila mengikuti logika stoik, label “kelas bawah” adalah eksternal — ia bukan esensi kita. Namun, sistem sosial modern justru mendorong kita untuk menginternalisasi label itu: menjadikannya bagian dari identitas. Akhirnya, kita terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus — menganggap kemiskinan sebagai takdir, bukan tantangan yang bisa dihadapi dengan kebijaksanaan dan tindakan kolektif.

Pertanyaannya, maukah kita mengubah “kelas bawah” dari sekadar kategori ekonomi menjadi komunitas yang sadar akan nilai dan daya hidupnya? Komunitas yang tidak mengukur diri hanya dari tabungan, pekerjaan, atau gaya hidup, tetapi dari kekuatan saling dukung, keberanian menghadapi kesulitan, dan kemampuan mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan.

Stoikisme tidak menjanjikan kekayaan, tapi mengajarkan bahwa kemiskinan bukan hal memalukan — yang memalukan adalah menyerah pada keadaan tanpa berusaha. Dan mungkin, di zaman ini, itu adalah bentuk perlawanan yang paling radikal.

 

Opini|Redaksi 

Editor|Rian Derasta