Membuka Tirai Kebenaran

Ketua dan Sekretaris Partai Gerindra di Laporkan Ke Polisi, di Duga Gelapkan Uang Saksi

2 min read

Gambar ilustrasi, referensi pihak ketiga

LintasIndoNews.com | Solo – Pemilihan umum (pemilu) telah usai. Hasil pemilu juga telah diumumkan. Namun, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Surakarta diduga belum membayarkan uang saksi kepada 3.468 orang.

Koordinator saksi Partai Gerindra Sapardi, akhirnya melaporkan ketua dan sekretaris DPC Partai Gerindra AK dan KS ke Polresta Surakarta, atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan dalam jabatan. Laporan sudah dibuat pada 13 Juni silam.

Dalam laporannya, Sapardi menduga kedua pengurus partai tersebut melakukan penggelapan uang saksi sebesar Rp 209 juta. Uang tersebut semestinya dibayarkan kepada 3.468 saksi yang telah ditugaskan pada pemilu presiden dan pemilu legislatif 17 April lalu. Namun, hingga kini tidak ada satu rupiah pun yang diterima.

“Awalnya saya diberi mandat ketua dan sekretaris DPC Partai Gerindra untuk mencari saksi pemilu dengan surat mandat resmi. Sebanyak 3.468 nama diserahkan sebagai saksi, dengan bukti fotokopi KTP. Mereka dijanjikan mendapat Rp 100 ribu setiap orang. Sebagai DP (uang muka), DPC memberikan Rp 50 ribu sebelum hari pencoblosan. Sisanya dijanjikan setelah pemilu dengan menyerahkan salinan C1. Tapi, sampai hari ini nol (tidak dibayarkan),” terang Sapardi.

Pria asal Karangasem, Laweyan yang menjabat Sekretaris Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR) ini sempat menagih uang saksi tersebut bersama koordinator saksi tingkat kecamatan kepada pengurus di kantor DPC Partai Gerindra. Dalam forum tersebut AK tidak dapat memberikan kepastian terkait pembayaran uang saksi.

Bahkan menurut Sapardi, AK meminta koordinator saksi untuk membakar berkas C1 yang telah terkumpul. Mendengar ucapan tersebut dia berang dan menganggap ketua DPC yang saat ini terpilih sebagai anggota DPRD Surakarta itu tidak memiliki itikad baik.

“Teman-teman saksi selalu menagih saya. Beberapa saya tutup dengan uang pribadi. Kalau dihitung, saya habis Rp 80 juta,” pungkasnya. (Catur)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.