![]()
PASANG IKLAN
Boyolali, Jawa Tengah — Kabupaten Boyolali sejak lama dikenal sebagai “kota susu” dengan sejumlah kecamatan yang menjadi pemasok utama kebutuhan susu ke berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur hingga Jakarta dan Jawa Barat. Salah satu pilar penting dalam rantai ekonomi tersebut adalah KUD Musuk, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung peternak sapi perah.
Memasuki usia ke-39 tahun, KUD Musuk masih bertahan sebagai kekuatan ekonomi bagi sedikitnya dua kecamatan yang mencakup sekitar 20 desa/kelurahan, ditambah wilayah Banyusri dan sebagian Cepogo. Namun, di tengah perjalanan panjang itu, berbagai tantangan mulai mencuat, terutama terkait kepemimpinan, penurunan produksi, serta minimnya regenerasi peternak.
Secara struktural, KUD Musuk memiliki beragam unit usaha strategis, mulai dari sektor persusuan, perkreditan, listrik, pakan ternak, hingga unit tabungan. Potensi ini dinilai besar untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk peluang menggandeng investor guna mendirikan pabrik pengolahan susu mandiri di wilayah Musuk.
“Jika dipimpin oleh sosok yang memiliki visi bisnis yang kuat, KUD Musuk seharusnya sudah mampu naik kelas, tidak hanya sebagai pemasok, tetapi juga produsen,” ungkap Sri Lestari, salah satu tokoh yang aktif menyoroti perkembangan koperasi tersebut.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan tren penurunan. Kapasitas tampung koperasi yang mencapai 50.000 liter per hari kini belum optimal, dengan realisasi pasokan terakhir hanya sekitar 22.000 liter per hari. Penurunan ini salah satunya dipicu oleh minimnya minat generasi muda untuk terjun di sektor peternakan sapi perah.
Sri Lestari menilai, kurangnya edukasi dan pendampingan dari instansi terkait turut berkontribusi terhadap lemahnya regenerasi peternak. Padahal, menurutnya, bisnis sapi perah masih sangat menjanjikan secara ekonomi.“Regenerasi itu penting. Tanpa itu, sektor ini akan terus menurun. Padahal peluangnya masih sangat besar,” ujarnya.
Di sisi lain, harga beli susu dari peternak justru mengalami kenaikan. Dari sebelumnya sekitar Rp6.500 per liter, kini mencapai Rp7.000 per liter pada masa kepemimpinan Pejabat (PJ) Ketua Suyatna. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi peternak, meski belum sepenuhnya mampu mengangkat produksi.
Menjelang kontestasi pemilihan Ketua KUD Musuk, isu kepemimpinan menjadi perhatian utama. Anggota koperasi diharapkan lebih selektif dalam memilih pemimpin yang tidak hanya memenuhi syarat Undang-Undang Koperasi dan AD/ART, tetapi juga memiliki kapasitas manajerial dan visi bisnis yang jelas.
Sri Lestari menegaskan bahwa dirinya tidak melarang siapapun untuk maju sebagai calon ketua, selama memenuhi ketentuan yang berlaku. Ia justru mendorong adanya kompetisi sehat demi melahirkan pemimpin yang kredibel dan berintegritas.
“Pemimpin KUD ke depan harus punya kemampuan bisnis, loyalitas tinggi kepada anggota, dan mampu membawa koperasi ini kembali berjaya,” tegasnya.
Harapan besar pun disematkan oleh para anggota, agar kepemimpinan baru nantinya mampu mendorong lahirnya generasi peternak muda, meningkatkan produksi susu, serta memperkuat posisi KUD Musuk sebagai salah satu aset ekonomi penting di Boyolali.
- AKJII Perkuat Konsolidasi Nasional, Pleno 2026 Sahkan Struktur Baru dan Peta Jalan Organisasi hingga 2028
- Ganti Song-Song Agung di Petilasan Keraton Pajang, Ritual Sakral Tanpa Kirab tapi Tetap Khidmat
- Putra dan Esa, Kebanggaan Boyolali: Dari Panggung Seni Musik hingga Dedikasi Sosial Keluarga Didik Sugiarto
- Solidaritas untuk AKJII, Berbagai Elemen Masyarakat Gotong Royong Sukseskan Rapat Pleno di Klaten
- Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Digelar atas Dawuh PB XIV, Masyarakat Diajak Jaga Kesakralan Tradisi

