![]()
-
Ganti Song-Song Agung di Petilasan Keraton Pajang, Ritual Sakral Tanpa Kirab tapi Tetap Khidmat -
Putra dan Esa, Kebanggaan Boyolali: Dari Panggung Seni Musik hingga Dedikasi Sosial Keluarga Didik Sugiarto -
Solidaritas untuk AKJII, Berbagai Elemen Masyarakat Gotong Royong Sukseskan Rapat Pleno di Klaten -
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Digelar atas Dawuh PB XIV, Masyarakat Diajak Jaga Kesakralan Tradisi -
Setengah Miliar untuk Wisata Desa Wonosegoro, Nol Rupiah untuk PAD? Kasus ini Sudah Masuk Ranah APH, Lantas Kenapa Berhenti?
SUKOHARJO – Suasana malam Jumat Kliwon di Dusun Sonojiwan, Desa Makam Haji, Kecamatan Kartosuro, Kabupaten Sukoharjo terasa berbeda. Wingit, sakral, namun sarat makna. Di sebuah tempat yang diyakini sebagai peninggalan Kasultanan Pajang masa silam, puluhan orang berkumpul menggelar wilujengan atau selamatan. Bukan sekadar kenduri, ritual puncaknya adalah pergantian Song-Song Agung Tunggul Rojo—payung keramat simbol kebesaran Keraton Pajang Joko Tingkir.
Tahun ini, prosesi yang biasa dimeriahkan Kirab Budaya terpaksa ditiadakan karena faktor teknis. Namun, itu tak mengurangi esensi ritual tahunan yang digelar menjelang bulan Suro tersebut. Justru, kesederhanaan acara pada Jumat (11/06/2026) malam itu menambah kedalaman hikmat yang terasa hingga ke relung hati para peserta.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami mengadakan wilujengan di malam Jumat Kliwon. Hanya saja, kali ini sekalian mengganti Song-Song Agung Keraton Pajang,” ungkap Raden Bambang Sidaya, S.E., salah satu tokoh pelestari budaya dari trah Kasultanan Pajang, ditemui di sela-sela acara.
Menurutnya, pergantian payung agung ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, ini adalah upaya nguri-uri budaya—menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur leluhur agar tetap hidup di tengah gempuran zaman modern.
“Walau sederhana, niat kami ikhlas. Spirit kebesaran kerajaan harus terus dihidupkan kembali,” tambah Bambang.
Prosesi Sakral di Bawah Malam yang WingitRitual dimulai dengan pembacaan doa dan lantunan tembang kidung Jawa yang menggema pelan di area petilasan. Suasana malam yang semakin larut menambah nuansa magis sekaligus khusyuk. Para sesepuh tampak hadir, di antaranya Joko Winarno Hadinegoro, KRH Agung Alap-alap Hadiwijaya, serta Bu Jasmin Slamet Rahayu yang dikenal sebagai juru kunci Petilasan Keraton Pajang. Warga umum dan sejumlah tokoh spiritual juga turut mengikuti jalannya acara.
Puncak prosesi dilakukan setelah rangkaian doa usai. Song-Song Agung lama yang telah berdiri setahun lebih perlahan diturunkan. Dengan penuh hati-hati, payung keramat itu dibungkus kain putih, sebuah simbol penyucian dan penghormatan. Tak lupa, sesajian khusus diletakkan di depan berdirinya song-song, tepatnya di lokasi Selo Umpak Kyai Keblak.
KRH Agung Alap-alap Hadiwijaya yang memimpin langsung prosesi pergantian menjelaskan, setiap langkah dalam ritual ini memiliki makna yang tidak boleh diabaikan.
“Bukan sekadar mengganti payung, ini tentang menghormati tanda kebesaran yang diwariskan leluhur,” ujarnya.
Song-Song Lama Akan Dilarung ke Pantai SelatanSetelah song-song baru resmi dipasang, payung agung yang lama tidak serta-merta disimpan. Sesuai tradisi yang melekat turun-temurun, song-song lama akan dilarung atau dilabuh ke pantai selatan. Jadwalnya menunggu setelah bulan Suro tiba, atau biasanya sehari menjelang pergantian bulan istimewa dalam penanggalan Jawa tersebut.
Menariknya, prosesi labuhan justru dinanti banyak orang. Masyarakat biasanya berbondong-bondong hadir untuk bisa merebut song-song lama, atau setidaknya sisa-sisa potongan payung yang diyakini membawa berkah. Tradisi ngalap berkah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian pergantian Song-Song Agung secara lengkap.
Menghidupkan Peradaban yang Lebih BeradabBagi para pelestari budaya, kegiatan mengganti Song-Song Agung bukanlah ritual usang yang layak ditinggalkan. Justru, di tengah arus modernisasi, tradisi semacam ini diharapkan bisa membangkitkan kembali spirit leluhur dalam membangun peradaban.
“Peradaban yang lebih baik, lebih beradab, sesuai dengan kultur Jawa,” pesan Bambang Sidaya di akhir perbincangan.
Meski tanpa kemeriahan kirab tahun-tahun sebelumnya, pergantian Song-Song Agung malam itu tetap berjalan khidmat. Petilasan Kasultanan Keraton Pajang Joko Tingkir di Sonojiwan pun kembali menjadi saksi bisu bahwa kebesaran masa lalu tidak akan pernah benar-benar mati—selama masih ada yang berani menjaga apinya.
koresponden: Cindy
Editor: Rian Derasta
- Ganti Song-Song Agung di Petilasan Keraton Pajang, Ritual Sakral Tanpa Kirab tapi Tetap Khidmat
- Putra dan Esa, Kebanggaan Boyolali: Dari Panggung Seni Musik hingga Dedikasi Sosial Keluarga Didik Sugiarto
- Solidaritas untuk AKJII, Berbagai Elemen Masyarakat Gotong Royong Sukseskan Rapat Pleno di Klaten
- Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Digelar atas Dawuh PB XIV, Masyarakat Diajak Jaga Kesakralan Tradisi
- Setengah Miliar untuk Wisata Desa Wonosegoro, Nol Rupiah untuk PAD? Kasus ini Sudah Masuk Ranah APH, Lantas Kenapa Berhenti?
