Membuka Tirai Kebenaran

Mbah Slamet Penjual Bakso Keliling Yang Viral, Demi Rp 50 Ribu Gandeng Istri Berjualan

3 min read

TribunSolo.com/Adi Surya – Tangkapan layar IG @saiff_food

Slamet Parmin Hadiwiyono (78) sedang melihat gerobak dagangannya yang terparkir di halaman rumahnya, Kenteng Baru RT 02 RW 07, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Minggu (13/10/2019). Parmin bersama istrinya berkeliling menjejakan dagangannya. 

SOLO – Ada kisah menyentuh hati dari pasangan suami istri (pasutri) penjual bakso kuah di Solo yang sudah lanjut usia (lansia) atau kakek-nenek bernama Slamet Parmin Hadiwiyono (78) dan Painem (60).

Meski usia senja, Parmin dan Painem gigih dalam berjualan seperti terekam dalam berbagai video dan foto yang disebarkan netizen dan sejumlah akun di media sosial (medsos) sehingga kemudian viral.

Bahkan jika ‘romantisnya’ pasutri itu saat berjualan membuat iri, karena Parmin di depan mengayuh sepeda yang dimodifikasi dengan gerobak, sementara Painem duduk di belakangnya menemani suami tercintanya.

TribunSolo.com mencoba mendatangi rumahnya di Kenteng Baru RT 02 RW 07, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Di rumah yang sederhana dan bersekat triplek itu, kakek dan nenek itu tinggal bersama seorang cucunya, Rifa’i (18).

Parmin dan Painem telah menempati rumah itu sejak tahun 1993, dan dirumah inilah mereka mulai memutuskan untik berjualan bakso kuah bersama-sama sejak menua bersama.

Mereka biasa berjualan di kawasan SD Kanisius Semanggi II, SD Al-Fajar Semanggi, dan Kantor Majelis Tafsir Alquran (MTA) Semanggi.

“Kami berputar-putar paling jauh di kawasan Alun-Alun Kidul Keraton Solo, Gladag, Balaikota, terkadang sampai Pasar Gedhe,” tutur Painem.

Painem mengatakan, saat berjualan keduanya akan berusaha untuk mendatangi titik-titik keramaian.

Kayuh Gerobak Belasan Km

Bahkan ‘dua sejoli’ itu bisa mengayuh sepeda bergerobaknya itu sejauh belasan kilometer setiap hari.

“Kalau ada keramaian di Pasar Gedhe, terlebih saat ada banyak lampion, bisa pulang jam 11 malam, kadang ya jam 5 sore, kalau jualan di alun-alun biasa jam 10 malam,” terang Painem.

Parmin menambahkan, mereka tidak akan mengayuh sepeda jauh-jauh bila kondisi fisik kurang sehat.

“Kalaupun jualan, gak jauh-jauh jualannya,” tutur Parmin.

Parmin mengungkapkan, daging yang mereka pakai untuk membuat bakso dibeli di Pasar Gemblegan, Kecamatan Serengan, Solo.

“Kalau tenaganya sehat habis subuhan bisa ambil gilingan, jadinya pukul 10.00 WIB sudah keluar jualan,” ungkap Parmin.

Parmin dan Painem biasa menggunakan gilingan daging ayam dan sapi sebagai bahan baku pembuatan bakso mereka.

Mereka biasa membeli 3/4 kg daging sapi, 2 kg daging ayam, dan 4 kg tepung pati.

“Kalau dulu, banyak sampai 15 kg, waktu itu ikan (daging) kan murah, ayam dulu ndak ada Rp 15 ribu, sekarang Rp 20 ribu ini malah sampai Rp 40 ribu/kg, ikan sapi malah Rp 120 ribu/kg,” tutur Parmin.

Parmin mengungkapkan, mereka harus menyiapkan kurang lebih Rp 550 ribu sebagai biaya membeli daging.

“Biasanya kami dapatnya Rp 700 ribu, ya kadang Rp 600 ribu itu pun kalau dagangannya habis,” ungkap Parmin.

“Kalau dirata-rata setiap hari dapat laba bersih sekitar Rp 50 ribu,” aku dia.

Parmin mengatakan, ia mematok harga Rp 1.000, per tiga bakso saat berjualan di pasar malam.

“Kalau di sekolah, Rp 1.000, bisa dapat empat bakso,” ucap Parmin.

“Biasanya, kalau di sekolah itu pada beli Rp 2.000 hingga Rp 3.000 saja,” tambahnya.

Olahan Sendiri

Parmin mengatakan, bakso yang dijual merupakan hasil olahannya sendiri.

“Kalau dulu itu, saya pernah sama orang lain, ikut tempatnya orang,” kata Parmin.

Parmin belajar mengolah bakso dari seorang juragan bakso bernama Hartono di daerah Kelurahan Jagalan, Solo.

“Juragan saya itu biasanya borong dua hingga tiga kuintal daging, kemudian itu dicacah-cacah,” tutur Parmin.

“Hasil cacahan terus dimasukkan ke bak, terus diaduk sama tangan, itu dulu sebelum ada gilingan,” imbuhnya membeberkan.

Parmin mengungkapkan, Hartono pernah mengajaknya berjualan bakso di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

“Terus dulu itu, juragan mau buka usaha bakso di Sumbawa, saya diajak tapi ndak mau, saya milih disini, buka sendiri,” tutur Parmin.

Awalnya, lanjut Parmin, berjualan dengan cara dipikul berkeliling Solo mulai pukul 14.00 WIB.

“Itu sekitar tahun 1970-an, dan sempat berhenti jualan dan coba untuk menjadi tukang becak,” tutur Parmin.

“Terus baru stabil jualan bakso tahun 1993, dan saat itu istri juga sudah membantu jualan keliling,” tambahnya. (*)

Sumber: Tribunsolo.com

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.