Mengkrontruksi Pendidikan di Indonesia Yang Bermoral dan Berkarakter

Mengkrontruksi Pendidikan di Indonesia Yang Bermoral dan Berkarakter
Sungatini, SP.d bersama Para Kakak Pembina

Loading

Sungatini, SP.d bersama Para Kakak Pembina

OPINI

Sistem pendidikan Indonesia saat ini hanya mencetak siswa menjadi ilmuwan dan pemikir. Padahal sebenarnya kita butuh agar siswa menjadi siap dan terampil bekerja, serta menyiapkan lapangan kerja agar Indonesia lebih baik dari sekarang.

Tujuan pendidikan indonesia sekarang ini hanya ingin mencetak anak pandai, secara kognitif terutama pada otak kiri yaitu meliputi aspek bahasa dan logika matematis.  Namun terkadang melupakan perkembangan otak kanan yang meliputi seni, musik imajinasi dan pembentukan karakter seseorang.

Karena tujuan yang dicanangkan adalah juara yang diukur dengan nilai, maka mendorong siswa untuk mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur. Pada akhirnya siswa tidak mengerti manfaat materi yang diberikan di kehidupan nyata.

Sehingga perlu dilakukan reformasi pendidikan ke arah yang lebih kondusif dengan pengenalan konsep pendidkan holistik atau menyeluruh, yang mampu menyatukan kehidupan sebagai suatu kesatuan yaitu kurikulum terpadu yang menyentuh semua aspek kebutuhan anak, serta menampung semua dimensi, ketrampilan dengan tema yang menarik dan sesuai kondisi psikologis perkembangan anak seusia mereka.

Caranya anak didorong berkreasi dan belajar, dengan cara mereka sukai memakai panduan guru kreativitas bahan dan sumber ajar oleh guru, serta pengalaman dan penambahan kreativitas guru untuk membuat pembelajaran lebih bermakna, dengan diadakan seperti kursus kepelatihan bagi seorang guru.

Kegiatan ini penting guna menegaskan bahwa pendidikan merupakan cara mentransformasikan nilai, sikap, pengetahuan dan ketrampilan tertentu dari generasi kegenerasi, karena pendidikanlah yang dianggap cara tepat dalam menyampaikan sikap dan moral kepada generasi berikutnya.

Penyampaian konsep pendidikan moral dari beberapa pakar antara lain, menurut John Dewey yaitu melalui pengalaman dan dari pengalaman itu akan disalurkan kegenerasi berikutnya, selaras dengan Jean Pieget dan Norman J. Bull yaitu pendidikan moral dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan moral anak tersebut yaitu pre-moral, heteronomi, autonomi.

Selanjutnya menurut Kohlberg pendidikan moral dibagi menjadi 3 seperti pra konvesional, konvesional dan pasca konvesional. Dengan demikian inti dari pendidikan seorang anak akan melewati suatu tingkatan perkembangan moral dari tingkat pra konvesional yang patuh, karena takut hukuman akibat melanggar suatu peraturan, tingkat konvesional hanya patuh karena ingin diterima orang lain atau dipandang orang lain, serta tingkat pasca konvesional yang patuh pada kesepakatn sosial yang berlaku, tetapi menurut kohlberg akan terjadi suatu regersi fungsional, dimana tidak semua orang akan mencapai tahap tertinggi, yaitu pasca konvesional malah terkadang orang akan jatuh ketahap yang paling rendah dari moral itu.

Sudah selayaknyalah pendidikan kita kembali ke ruh dasar, yaitu menciptakan manusia Indonesia yang seutuhnya dan sepenuhnya, seperti ajaran Ki Hadjar Dewantara dengan sistem Tri N yaitu Niteni, Nirokke dan Nambahi. (**)