Miniatur Kerajaan di Tengah Dusun, Siap Meriahkan Tradisi Bersih Dusun Kadirejo Jelang HUT RI ke-80

Miniatur Kerajaan di Tengah Dusun, Siap Meriahkan Tradisi Bersih Dusun Kadirejo Jelang HUT RI ke-80

Loading

Liputan khusus Redaksi 

BOYOLALI – lintasindonews.com Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Dukuh Kadirejo, Desa Kadipaten, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, menggelar tradisi tahunan Bersih Desa yang sarat makna budaya dan spiritualitas.

Kereta kencana yang akan di jadikan refleksi bersih dusun

Kegiatan ini akan digelar pada Sabtu Kliwon, 16 Agustus 2025 mendatang, dan menjadi momen penting bagi warga dari RT 9, 10, 11, 12, hingga RT 39 untuk berkumpul dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.

Yang menarik, Bersih Dusun di Kadirejo tak sekadar ritual pembersihan lingkungan atau doa bersama, melainkan juga menyuguhkan pertunjukan budaya yang melibatkan kreasi visual warga. Tahun ini, RT 12 menyajikan dua miniatur budaya Indonesia dalam bentuk kereta kencana dan adegan kerajaan, yang dirancang langsung oleh warga RT.

“RT kami menampilkan dua kisah dengan kereta kencana. Desainnya mengangkat nuansa kejayaan masa kerajaan, lengkap dengan atribut dan tokoh-tokoh yang kami ciptakan sendiri,” ujar Ketua RT Hartono, yang akrab disapa Tinting.

Menurut Tinting, tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi agenda rutin tahunan. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang diterima warga selama setahun, Bersih Dusun juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial antarwarga.

“Ini bukan sekadar hiburan atau ritual, tapi cara kami menjaga identitas budaya dan menyatukan warga lintas generasi,” tambahnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan ini juga diramaikan dengan kegiatan gotong royong, doa bersama, dan suguhan makanan tradisional. Meski sederhana, semangat kolektif dan nilai kebersamaan membuat acara ini terasa istimewa.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus modernisasi, tradisi Bersih Desa Kadirejo menunjukkan bahwa warisan leluhur tetap hidup—bukan sekadar diperingati, tetapi dihidupi.

Editor|Derasta