Membuka Tirai Kebenaran

Orang Pamer Tanda Tak Bahagia

3 min read
Rian Hepi Pegiat Medsos

Opini, Sebagian besar orang pasti punya rasa kesal terhadap orang yang suka pamer, karena kita sering berpikir kalau mereka itu sombong. Dari luar, orang yang suka pamer terlihat sangat bahagia memberitahu kepada orang apa yang dimilikinya, baik berupa barang maupun pengalaman yang kadang dia merasa paling hebat, super, spesial dan berkelas, baik itu di medsos seperti Facebook, WAG, Instagram dan sebagainya.

Namun banyak orang yang tahu kalau sebenarnya orang-orang seperti ini sangat berbeda dengan apa yang ada ditampilkannya di publik. Justru kadang sebaliknya, bisa saja di tertawakan orang yang tahu sebenarnya. Bahkan di sindir dengan cara sarkasme (dalam bahasa jawa di lulu) pun orang yang suka pamer tidak merasa dan malah ge’er, atau sudah kebal bahasa jawanya rai gedhek.

Jika kita bertemu dengan orang yang sukses, atau orang yang banyak pengalaman kecil kemungkinan mereka akan berbicara tentang berapa materi atau pengalaman, dan relasi yang mereka miliki atau bagaimana kehidupan pribadinya. Jawabannya sederhana sekali karena biasanya orang-orang sudah bisa menebak seberapa materi dan pengalaman dia, jadi ia tidak perlu menggembar-gemborkannya.

Cukup merunduk bagai ilmu padi, orang jawa bilang mbodoni yang memiliki prinsip pura-pura bodoh dan senang merendah di depan orang-orang yang suka pamer dan sombong. Bahkan jika di remehkan orang cukup di balas dengan senyuman, orang jawa bilang nyolong pethek yang artinya tak disangka-sangka pengalamannya segudang.

Inilah fenomena alam antara pamer vs rendah hati, bagaimana sahabat lintas ? Anda semua bisa memilih pamer atau merendah saja? cukup tersenyum dalam hati. Mari kita ulas faktor dari kebiasaan pamer dalam diri manusia.

Menemukan Dunia Baru

Apa hubungannya dengan pamer? Kita santai sejenak dan perhatikan jika ada hal-hal dunia baru biasannya penyakit pamer akan muncul. Contoh seperti seorang menekuni dunia baru, semisal ia baru saja mendapat pekerjaan yamg membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya. Ia akan pamer kemana-mana, tentang relasinya, orang hebat di sekitarnya yang kini bisa menjadi super star, padahal itu biasa saja, wajar juga sih, seperti anak kecil memiliki sepeda baru ya sahabat lintas? Lucu jadinya.

Di lain sisi ia selalu menghiperbolakan apa yang ada dalam kehidupannya. Orang seperti ini sebenarnya tidak bahagia, bahkan cenderung tidak di sukai banyak orang. Namun ia selalu tidak menyadarinya jika lambat laun orang akan jenuh dan tak menghargainnya.


Butuh Pengakuan

Sebenarnya ada hal yang ingin di harapkan dari orang yang suka pamer, ia ingin di hargai, ingin di akui, ingin di perhatikan, ingin di puja bahkan fatalnya ingin menguasai, seperti contoh hal-hal di luar nalar dan logika. Jika masuk dalam komunitas media sosial seperti WAG misalnya, berbagai cara ingin menjadi nomor satu yakni menjadi admin, bahkan tanpa ijin admin yang lain ia akan menerobos tanpa rasa bersalah, selalu mengupload kehidupan pribadinya, agar di akui ia hebat, super, high class, atau jet set dan lebih milenial.

Bagaimana sahabat lintas ? Anda memilih jalur yang mana? Mari renggangkan ikat pinggang sementara, santai saja ya menghadapi orang seperti ini. Cukup merendah satu senyuman, itu lebih hebat. Lebih asyik bukan? Jika tertawa dalam hati di depan orang yang suka pamer ?

Balas dendam

Bisa saja balas dendam juga termasuk pemicunya. Kok bisa? Tenang sahabat lintas, faktor ini biasanya akan lebih gila dalam soal pamer. Ia selalu berusaha pamer di setiap waktu, seperti orang putus pacaran atau orang yang telah tersisihkan. Bahkan orang yang pamer karena dendam selalu saja merendahkan orang lain, seperti memiliki target ia harus lebih hebat dari segala hal, ia suka mencari celah kekurangan orang lain yang dianggap lawan.

Seperti koreksi berlebihan, tentang kekurangan orang lain sebagai ungkapan rasa puas, ia akan selalu tertawa jika orang yang dianggap lawan memiliki kekurangan. Wah kejam sekali ya ? Tenang saja sahabat lintas kita balas dengan satu senyuman, toh yang menilai baik dan buruk itu orang lain. Jika orang yang suka pamer pasti menjadi juri bagi dirinya sendiri, di puji sendiri, di koreksi sendiri, di nilai sendiri. Lho kok sendiri ? Ya iya lah kan dia gak punya teman.

Temannya hanya semu dan kamuflase karena belum mengenalnya. Oke sahabat lintas semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi sebuah kaca brenggala untuk melihat kekurangan dalam diri kita. Ingat manusia tidak ada yang sempurna.

Bagi yang merasa tersinggung dengan ulasan ini berarti ia dalam kegelisahan, mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Salam damai !!

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.