![]()
Di tengah gempuran alat pertanian modern yang bersinar dengan teknologi, pacul berdiri seperti filsuf tua—tenang, sederhana, tapi penuh makna. Ia tak pernah mencari kemewahan, tak pula ingin dipamerkan. Pacul hanyalah sebatang besi yang menyatu dengan kayu, tapi di ujungnya tersimpan daya menjaga hidup. Tanpa pacul, banyak ladang akan terlantar, banyak perut akan lapar, dan sejarah pertanian tak akan pernah sama.
Dalam pandangan Stoik, nilai sebuah benda tak diukur dari sorotan publik, melainkan dari peran dan keteguhan fungsinya. Pacul mengajarkan bahwa yang sederhana tak berarti remeh. Ia tak iri pada traktor beroda raksasa atau mesin pemanen yang gagah, karena ia tahu: setiap musim, akan selalu ada tanah yang membutuhkan sentuhan tangannya.
Ironisnya, zaman kini mulai melupakannya. Pacul tersingkir ke gudang, hanya keluar saat keadaan mendesak. Tetapi seperti kebijaksanaan kuno yang tak pernah benar-benar mati, pacul akan tetap relevan—meski hanya dalam skala kecil, di tangan petani yang memahami bahwa pangan tak lahir dari kemegahan, melainkan dari kerja tekun.
Pacul adalah meditasi tentang ketabahan: sederhana, tak memamerkan diri, namun menopang kehidupan. Dan dalam dunia yang semakin tergesa-gesa, mungkin kita justru butuh lebih banyak “pacul” dalam hidup—alat sederhana, prinsip teguh, dan kesetiaan pada tujuan sejati.
Opini|Redaksi




- TikToker Heri Sweke Resmi Jadi Tersangka, Kasus Pelecehan Verbal di Medsos
- Ritual Langka 8 Tahunan, Karaton Surakarta Gelar Labuhan Ubo-rampé Adang DAL 1959 di Parangkusumo
- Drama Kuasa Hukum di Kasus Sinuwun: Satu Mundur, Tim Baru Langsung Tancap Gas di Sidang Perdana
- AKJII Resmi Dibentuk, Siap Jadi “Tameng” Jurnalis Hadapi Intimidasi
- Reuni Hangat Eks Karyawan Armada Subentra Finance, Halal Bihalal Lintas Kota Penuh Nostalgia dan Kisah Sukses










