![]()
Di tengah gempuran alat pertanian modern yang bersinar dengan teknologi, pacul berdiri seperti filsuf tua—tenang, sederhana, tapi penuh makna. Ia tak pernah mencari kemewahan, tak pula ingin dipamerkan. Pacul hanyalah sebatang besi yang menyatu dengan kayu, tapi di ujungnya tersimpan daya menjaga hidup. Tanpa pacul, banyak ladang akan terlantar, banyak perut akan lapar, dan sejarah pertanian tak akan pernah sama.
Dalam pandangan Stoik, nilai sebuah benda tak diukur dari sorotan publik, melainkan dari peran dan keteguhan fungsinya. Pacul mengajarkan bahwa yang sederhana tak berarti remeh. Ia tak iri pada traktor beroda raksasa atau mesin pemanen yang gagah, karena ia tahu: setiap musim, akan selalu ada tanah yang membutuhkan sentuhan tangannya.
Ironisnya, zaman kini mulai melupakannya. Pacul tersingkir ke gudang, hanya keluar saat keadaan mendesak. Tetapi seperti kebijaksanaan kuno yang tak pernah benar-benar mati, pacul akan tetap relevan—meski hanya dalam skala kecil, di tangan petani yang memahami bahwa pangan tak lahir dari kemegahan, melainkan dari kerja tekun.
Pacul adalah meditasi tentang ketabahan: sederhana, tak memamerkan diri, namun menopang kehidupan. Dan dalam dunia yang semakin tergesa-gesa, mungkin kita justru butuh lebih banyak “pacul” dalam hidup—alat sederhana, prinsip teguh, dan kesetiaan pada tujuan sejati.
Opini|Redaksi




- Bantuan P3-TGAI Rp195 Juta di Wates Disorot, Baru Sebulan Dinding Irigasi Retak, Muncul Pengakuan Setoran 20 Persen
- LHA SH Terate Pusat Madiun: Jangan Gunakan Tekanan Massa untuk Menyelesaikan Persoalan Organisasi
- Dandim Klaten Ajak Wartawan Perkuat Sinergi, Tegaskan Media Punya Peran Penting Tangkal Hoaks
- Kematian Iltaniardi dan Pertanyaan yang Tertinggal: Bagaimana Pertolongan Pertama Diberikan?
- Delapan Tahun Diguyur Anggaran Rp1,142 Miliar, Wisata Umbul Tirah Disorot: Kios Berdiri di Atas Saluran Air hingga Dugaan Setoran Tiket










