![]()
Gelombang demonstrasi yang terjadi belakangan ini seakan menunjukkan wajah lama politik kita: sebagian pihak begitu bernafsu menolak setiap langkah pemerintah, seolah-olah tidak ada satu pun kebijakan yang pantas diapresiasi. Kritik memang penting dalam demokrasi, tetapi kritik yang lahir dari kebencian abadi hanya akan melahirkan kebuntuan.
Prabowo dan Gibran jelas bukan manusia sempurna. Namun, kepemimpinan mereka baru berjalan, dan data survei menunjukan kepuasan publik masih tinggi di kisaran 80 persen. Artinya, mayoritas rakyat justru merasakan manfaat dan berharap program-program itu berjalan. Apakah suara mayoritas harus selalu ditutupi oleh narasi minoritas yang paling bising?
Ironisnya, mereka yang menolak kerap tidak menghadirkan solusi nyata. Menolak, mencaci, bahkan memutarbalikkan fakta dijadikan “senjata politik”. Padahal negara ini tidak akan maju jika sebagian warganya sibuk menyalakan api tanpa menawarkan air.
Kritik yang sehat mestinya membangun, bukan sekadar menjatuhkan. Pemerintah layak didukung selama jalannya menuju kesejahteraan rakyat. Mengabaikan setiap capaian hanya karena fanatisme politik masa lalu adalah sikap yang kontraproduktif.
Mari belajar membedakan antara oposisi yang cerdas dan oposisi yang sekadar mengumbar kebencian. Sebab, kalau pemerintah selalu salah di mata Anda, lalu kapan Anda mau benar di hadapan bangsa?
- Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih, Presiden Dorong Ekonomi Desa, Klaten Ambil Peran 90 Titik
- RUU KKS Didorong Segera Disahkan, Soegiharto Santoso: Ancaman Siber Kini Mengancam Kedaulatan Bangsa
- Karang Taruna Sinar Remaja Resmi Buka Turnamen Mini Soccer Bangun Jaya 2026, Duel Baja Legend Vs Bakonsu FC Bakar Semangat Warga
- Dari Lahan Tidur Jadi Produktif, Lapas Purwodadi Panen 100 Kg Terong, Warga Binaan Dibekali Skill Nyata
- Dugaan Praktik Tak Wajar di Perusahaan Semarang, Karyawan Mengaku Diintimidasi Saat Menuntut Hak
-
DEMONCRAZY
-
DEMONCRAZY
-
DEMONCRAZY




