![]()
GROBOGAN, Sekitar 25.000 warga Thoriqoh Shiddiqiyyah dari berbagai daerah memadati Gedung Serbaguna Dewi Sri, Jalan Thamrin, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). Mereka menghadiri peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan Shilaturrahmi dan Tasyakuran ke-26 Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Acara berlangsung khidmat dengan nuansa religius dan syiar Islam. Hadir langsung Guru Besar Thoriqoh Shiddiqiyyah, KH Mochammad Muchtar Mu’thi, beserta jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Ribuan jamaah yang memenuhi lokasi kegiatan mencerminkan kuatnya ikatan ukhuwah serta komitmen warga Shiddiqiyyah dalam mengamalkan ajaran tasawuf yang moderat dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Sehari sebelum acara puncak, Sabtu malam (11/7/2026), KH Mochammad Muchtar Mu’thi bersama rombongan melakukan ziarah ke Makam Ki Ageng Selo di Kabupaten Grobogan. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengulas sejarah Ki Ageng Selo sebagai tokoh yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai penakluk petir sekaligus leluhur para raja di Tanah Jawa.
Di hadapan ribuan jamaah, KH Mochammad Muchtar Mu’thi juga menyampaikan kebanggaannya terhadap Kabupaten Grobogan yang memiliki banyak tokoh bersejarah, termasuk Ki Ageng Selo yang hingga kini tetap dihormati masyarakat.
Dalam tausiyah utamanya, KH Mochammad Muchtar Mu’thi menegaskan dua pesan penting yang harus terus dijaga oleh umat Islam, khususnya warga Thoriqoh Shiddiqiyyah.Pesan pertama adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kita semua tahu bahwa persatuan adalah kunci kekuatan bangsa. Sebagai warga negara muslim yang baik dan taat, kita wajib menjaga NKRI agar tetap utuh, damai, dan sejahtera. Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita,” tegasnya.
Pesan kedua adalah pentingnya memperdalam pemahaman agama (tafaqquh fiddin). Menurutnya, amalan tarekat harus berjalan seiring dengan pemahaman syariat yang benar agar tidak mudah menyimpang dari ajaran Islam.

“Amalan dzikir dan wirid akan bernilai tinggi apabila dilandasi pemahaman agama yang benar. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan ibadah kita,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Mochammad Muchtar Mu’thi juga menjelaskan makna filosofis Bendera Merah Putih. Menurutnya, Sang Saka Merah Putih bukan sekadar simbol negara, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual yang patut dijaga.
Ia menjelaskan bahwa warna merah melambangkan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran, pengorbanan jiwa dan raga, semangat membela agama, bangsa, serta cinta kasih kepada sesama. Sementara warna putih melambangkan kesucian hati, keikhlasan, kejujuran, cahaya iman, serta kebersihan jiwa yang menyempurnakan jasmani menjadi manusia beriman.
Perayaan Shilaturrahmi dan Tasyakuran ke-26 tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum refleksi atas perjalanan panjang Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam membina akhlak umat. Selama puluhan tahun, organisasi tersebut aktif berkontribusi dalam pembinaan mental spiritual masyarakat, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga aksi kemanusiaan saat terjadi bencana.
Sementara itu, Ketua Umum Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS), Pujiarti, didampingi Ketua Bidang Organisasi Fatih Khatun Yuliana, mengatakan peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus momentum mempererat persaudaraan antarsesama warga Shiddiqiyyah.
Ia berharap semangat kebersamaan, penguatan nilai-nilai keagamaan, dan kecintaan terhadap bangsa yang terus ditanamkan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi penerus dalam menjaga persatuan Indonesia. (Tim)
