Ambalat Disorot Dunia: Saatnya Indonesia Berhenti Jadi Bangsa yang Cengeng!

Ambalat Disorot Dunia: Saatnya Indonesia Berhenti Jadi Bangsa yang Cengeng!

Loading

Oleh Rian Derasta Pemerhati Sosial dan Pegiat Media Sosial

Ketika media asing seperti Malay Mail dan Channel News Asia menyoroti sengketa Ambalat antara Indonesia dan Malaysia, satu hal menjadi terang-benderang: Indonesia kembali menjadi buah bibir. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan terus menjadi negara yang hanya “diperbincangkan”—atau kita akan berdiri tegak sebagai bangsa besar yang tahu arah dan harga diri?

Pernyataan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Kota Kinabalu, tentang “melindungi setiap jengkal Sabah” seakan menunjukkan posisi ofensif diplomatik Malaysia. Meski pernyataan itu dibalut kalimat persahabatan, esensinya jelas: Malaysia tidak akan mundur dalam klaimnya atas wilayah kaya migas, Ambalat.

Baca juga: Retender Proyek Fisik di Sragen: Simptom dari Masalah Sistemik dalam Pengadaan Publik?

Di sisi lain, Indonesia tampak lebih sibuk mengedepankan retorika damai dan kerja sama. Presiden Prabowo Subianto memang menunjukkan sikap yang ramah dan terbuka terhadap dialog. Namun di balik itu, publik butuh jaminan: jangan sampai kerja sama justru jadi jalan sunyi menuju pengabaian kedaulatan.

Ambalat bukan sekadar titik koordinat di Laut Sulawesi. Ia adalah simbol harga diri bangsa. Sebuah wilayah yang telah menjadi saksi tarik-ulur kekuatan diplomasi dan kekuatan armada laut sejak awal 2000-an. Bahkan pada 2010, nyaris terjadi konfrontasi kapal perang antara Indonesia dan Malaysia. Ini bukan cerita baru. Tapi mengapa kita terus seperti baru tersadar?

Baca juga: IKN: Sebuah Janji yang Tak Dikejar Waktu, Tapi Ditepati oleh Kesungguhan

Ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia atas Pulau Sipadan dan Ligitan pada 2002, Indonesia seharusnya belajar. Jangan biarkan sejarah terulang karena kelalaian atau sikap lemah.

Hari ini, para pengamat internasional menyebut bahwa Ambalat adalah “blok harta karun”. Jika Malaysia bisa menyebut ND6 dan ND7 sebagai wilayahnya, mengapa Indonesia belum menyatakan posisi yang sama kerasnya di panggung internasional? Apakah kita takut disebut agresif?

Inilah waktunya Indonesia menunjukkan wajah sejatinya: bangsa yang besar, tapi tidak lunak. Bangsa yang mengedepankan dialog, tapi tidak ragu bertindak bila batas diinjak.

Kita tidak perlu provokasi. Tapi kita juga tidak butuh sikap manis yang membuat kita terus disalahpahami. Dunia sedang memperhatikan, dan kita tak boleh tampil sebagai bangsa yang cengeng, yang hanya mengeluh saat haknya tergerus.

Negosiasi harus tetap berjalan. Tapi narasi publik dari para pemimpin harus lebih tegas. Bukan hanya tentang persahabatan pribadi, tapi tentang mandat konstitusi: menjaga segenap tumpah darah Indonesia.

Ambalat adalah ujian baru. Semoga Indonesia lulus—dengan kepala tegak dan harga diri yang utuh.