Tes Urine Massal Perangkat Desa, Harapan Bersih atau Sekadar Gertakan?

Tes Urine Massal Perangkat Desa, Harapan Bersih atau Sekadar Gertakan?

Loading

Oleh Rian Derasta

Kebijakan terbaru dari Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, yang mewajibkan seluruh aparatur desa di Indonesia menjalani tes urine pada tahun 2026 patut diapresiasi. Langkah ini jelas menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memerangi narkoba yang sudah menyusup hingga ke desa-desa.

Baca juga: BNNP Jateng dan BNN RI Kunjungi Lapas Purwodadi, Apresiasi Program Rehabilitasi Warga Binaan

Namun di balik niat baik itu, masyarakat juga berhak untuk kritis. Sebab, terlalu banyak kebijakan yang gagah di awal, tapi tumpul dalam pelaksanaan. Terlebih lagi, pengumuman ini disampaikan bukan sebagai sidak mendadak, melainkan diberi tenggat waktu hingga tahun depan. Ini justru memberi ruang “bersih-bersih” bagi oknum, alih-alih jadi deteksi nyata.

Desa sebagai ujung tombak pelayanan publik memang harus bersih dari narkoba. Tapi kita juga harus jujur, jangan sampai kebijakan ini hanya jadi panggung pencitraan atau bahkan alat tekanan politik lokal menjelang tahun politik. Tes urine wajib bisa jadi alat seleksi yang bias, kalau tidak dikawal transparan dan akuntabel.

Baca juga: Ketika Bendera One Piece Berkibar: Antara Ekspresi Kebebasan atau Alarm Sosial?

Apalagi, kita tahu betapa kuatnya relasi kuasa di desa, dari kepala desa hingga BPD. Jika tidak disertai pengawasan independen, hasil tes urine bisa dimanipulasi demi melindungi “orang dalam”, sementara yang dikorbankan hanya petugas rendahan.

Kita mendukung tes urine massal, tapi dengan catatan: harus adil, profesional, dan tidak tebang pilih. Jangan sampai program ini hanya jadi program “musiman” tanpa hasil nyata di lapangan.

Masyarakat desa, yang jumlahnya 73 persen dari total penduduk Indonesia, layak mendapatkan aparatur yang bersih. Tapi mereka juga layak tahu bahwa kebijakan ini tidak dijadikan senjata politik atau gertakan kosong belaka.

Tahun depan, kita lihat bersama: ini momen bersih-bersih desa secara serius, atau hanya semacam sandiwara urinalisasi nasional?