![]()
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengusung ambisi besar: menghadirkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan kualitas terbaik, baik dari jalur Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Targetnya jelas—mendukung implementasi Asta Cita yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas nasional.
Menteri PANRB Rini Widyantini menegaskan komitmen itu saat meninjau Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) sekolah kedinasan di Bandung, Rabu (13/8). Dengan sistem computer assisted test (CAT) yang diklaim transparan dan objektif, pemerintah ingin menutup rapat peluang praktik curang seperti joki CPNS atau nepotisme.
Namun, ambisi mulia ini menyimpan potensi keresahan. Bayangkan jika seleksi yang ketat ini justru terjebak dalam masalah lama: ketidakmerataan akses informasi, disparitas kualitas pendidikan, atau bahkan permainan halus yang tak terdeteksi sistem digital. Alih-alih melahirkan birokrat profesional, proses ini bisa melanggengkan kesenjangan dan memupus harapan talenta potensial dari daerah tertinggal.
Data menunjukkan, tahun ini 1.559 peserta bersaing memperebutkan kursi di tujuh sekolah kedinasan, dengan total kebutuhan hanya 3.252 CPNS. Rasio ini menciptakan kompetisi super ketat—yang dalam kondisi ideal akan memacu kualitas, tetapi juga rawan menimbulkan frustasi sosial jika integritas pelaksanaannya terganggu.
Gagalnya program ini bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan pukulan telak terhadap janji reformasi birokrasi. Asta Cita yang mengusung penguatan SDM bisa menjadi jargon kosong jika seleksi ASN masih diwarnai keraguan publik. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara akan kembali tergerus, dan reformasi yang diidamkan hanya menjadi catatan di atas kertas.
Pemerintah harus sadar, menjaga integritas seleksi ASN bukan hanya soal teknologi ujian, tetapi juga transparansi menyeluruh dari hulu ke hilir. Tanpa itu, mimpi Prabowo untuk mencetak birokrat adaptif, profesional, dan berdampak nyata hanyalah ilusi di ruang sidang kementerian.
Opini|Redaksi
Editor|Rian Derasta


- Haru dan Bahagia, Ian Azka Rayakan Ulang Tahun ke-8 Bersama Keluarga dan Anak-anak Perumahan Persada Asri
- Ratusan Jemaat GPDI Bulakan Bendan Boyolali Rayakan Kenaikan Yesus Kristus dengan Pujian dan Penyembahan
- Tangis Haru dan Bangga Warnai Tasyakuran Kelulusan SMA Negeri Tangen Sragen
- KPK, Ahmad Dedi, Bea Cukai, Dugaan Suap Impor, Komisi Pemberantasan Korupsi, Berita Nasional, Hukum Indonesia
- Alamat TKP Dipersoalkan Warga Macanan, Kasus Deny Setiawan Tuai Sorotan Baru






