![]()
🎯Penulis|Hafiza Ayu Azahwa
✍️ Editor|Rian DerastaÂ
Boyolali – Di tengah arus modernisasi yang makin deras, suara gamelan dan lenggok wayang kulit makin jarang terdengar. Namun di Desa Semawung, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, memori budaya itu masih lekat di ingatan masyarakat—terutama bagi Rianto (50), putra dari almarhum Ki Suwarli, seorang dalang sekaligus kepala sekolah SDN Semawung 1 semasa hidupnya. Kami menemui Rianto di pendopo rumah peninggalan sang ayah.
Masih tersimpan foto dalam album cetak yang sudah usang, Ki Suwarli sedang mendalang di acara bersih desa, tokoh Punokawan yang menjadi favoritnya. Dengan mata menerawang dan suara berat penuh kenangan, Rianto menyambut wawancara kami, membicarakan dua hal yang sudah menjadi denyut nadi warga Semawung selama puluhan tahun: tradisi bersih desa dan seni wayang kulit.
“Sejak saya kecil, bersih desa selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya soal pesta atau pertunjukan wayang, tapi tentang rasa syukur, kebersamaan, dan harapan,” buka Rianto.
Bersih desa, atau dikenal juga sebagai nyadran atau sedekah bumi, adalah tradisi tahunan yang masih lestari di Semawung. Biasanya digelar pada bulan Sura atau setelah panen raya. Warga bergotong royong membersihkan lingkungan, makam leluhur, dan menggelar tumpengan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan alam atas hasil bumi.
Yang unik, bersih desa di Semawung selalu ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Saat ditanya mengapa harus wayang kulit yang dipilih untuk merayakan bersih desa, Rianto tak ragu menjawab.
“Wayang itu bukan sekadar hiburan, Ia mendidik, menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Lewat tokoh-tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong—masyarakat diajak berpikir, merenung, bahkan tertawa. Tapi semua itu ada pesannya. Itulah kekuatan wayang kulit,” ujarnya.
Rianto menceritakan bagaimana sang ayah, Ki Suwarli, selalu menyisipkan pesan moral dalam setiap pementasannya. Mulai dari nasihat hidup, ajaran agama, hingga kritik sosial, semuanya dibalut dalam lakon pewayangan yang merakyat.
“Bapak saya itu seorang guru, jadi dalangnya juga gaya guru. Bahasanya ringan, mendidik, tapi nancep,” kenangnya sambil tersenyum.
Di antara sekian banyak tokoh wayang, Rianto menyoroti betapa tokoh Punokawan sangat dicintai warga Semawung.
“Semar dan anak-anaknya itu unik. Mereka bukan ksatria, bukan bangsawan. Tapi justru merekalah yang jadi penyampai kebenaran. Mereka bisa mengkritik raja, bisa menertawakan kebijakan, tapi juga bisa jadi penasihat bijak,” jelasnya.
Menurut Rianto, Punokawan adalah suara rakyat jelata—mewakili keresahan, harapan, dan kebijaksanaan orang kecil.
“Dalam konteks sekarang, ketika ketimpangan sosial makin terasa, suara Punokawan itu makin relevan. Ia bisa mewakili jeritan rakyat kecil yang terpinggirkan, tapi dengan cara yang santun dan jenaka,” tambahnya.
Pembicaraan kemudian mengarah pada sejarah panjang wayang kulit, dan Rianto pun mengangkat kisah Sunan Kalijaga.
“Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, menjadikan wayang sebagai alat dakwah. Bukan memaksa, tapi mengajak. Dari situ masyarakat bisa menerima ajaran Islam tanpa merasa kehilangan budaya lokal. Itulah indahnya akulturasi,” ucapnya dengan penuh semangat.
Rianto menekankan bahwa budaya dan agama tidak harus bertentangan. Wayang kulit adalah contoh konkret bagaimana budaya bisa menjadi jembatan, bukan jurang.
“Kalau kita tinggalkan budaya, lama-lama kita kehilangan jati diri. Budaya itu pondasi bangsa. Tanpa budaya, Indonesia tak akan terbentuk,” tegasnya.
Namun di balik semangat pelestarian budaya, ada nada sedih dari suara Rianto. Sejak kepergian ayahnya sejak tahun 2005 lalu, tak ada lagi yang melanjutkan jejak sebagai dalang di keluarganya. Wayang dan gamelan peninggalan Ki Suwarli pun terpaksa dijual.
“Berat rasanya, tapi waktu itu saya harus memilih. Anak-anak saya juga tidak ada yang tertarik. Sekarang semua sibuk dengan dunia masing-masing,” ucapnya lirih.
Meski begitu, Rianto tak berhenti mencintai budaya. Ia masih aktif menjadi panitia bersih desa, mengusulkan wayang sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual tahunan itu. Ia juga kerap menjadi narasumber di sekolah-sekolah, mengenalkan wayang kepada generasi muda.
“Saya mungkin bukan dalang. Tapi saya masih bisa jadi juru cerita. Asal ada yang mau mendengarkan,” ujarnya dengan tatapan optimis.
Rianto menutup perbincangan kami dengan ajakan yang tulus.
“Budaya itu bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah jembatan menuju masa depan. Mari kita rawat, cintai, dan hidupkan budaya Indonesia ini—karena dari sanalah kita berasal.”
Dalam kesederhanaannya, Rianto mewakili suara banyak orang yang masih percaya bahwa wayang kulit bukan sekadar pertunjukan malam hari.
Ia adalah ruh bangsa. Dan bersih desa, bukan hanya bersih fisik, tapi juga spiritual.
Semoga di masa depan, ada generasi baru yang kembali menyuarakan kisah Punokawan. Bukan hanya di atas kelir, tapi dalam kehidupan nyata: sebagai suara nurani, pengingat moral, dan cermin keadilan.
📌Sudah Dibaca:

