![]()
👁️Opini|Redaksi
✍️ Editor|Rian Derasta
Saat sebuah bangsa melangkah ke babak baru, sejarah kerap menuntut keputusan yang tidak hanya berdasar pasal dan pasal, tapi juga rasa dan nurani. Itulah yang terjadi kala Presiden Prabowo Subianto menandatangani amnesti bagi Hasto Kristiyanto dan abolisi bagi Thomas Lembong.
Tentu publik terbelah. Ada yang menggugat, ada yang bersyukur. Namun, di atas semua itu, keputusan ini menunjukkan sisi lain dari seorang Prabowo: pemimpin yang tidak sekadar keras dalam sikap, tapi juga lembut dalam menimbang luka.
Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP yang sempat mendekam di Rutan KPK karena kasus yang menyita perhatian publik, kini melangkah keluar bukan hanya dengan kebebasan, tetapi dengan pesan. Dalam ucapnya usai menghirup udara bebas, ia menyebut nama Megawati dengan penuh hormat, lalu menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo, yang baginya telah menjawab jerit keadilan lewat hak prerogatifnya.
Amnesti bukan penghapusan dosa, tapi ruang maaf dari negara kepada warganya. Ruang yang tidak serta-merta dibuka, kecuali oleh pemimpin yang berani memikul risiko politik demi sesuatu yang ia percaya: keutuhan dan keseimbangan.
Presiden Prabowo tahu, jalan menuju rekonsiliasi bukan tanpa batu. Namun ia memilih melangkah. Ia mengirim dua surat kepada DPR: satu untuk amnesti Hasto, satu lagi untuk abolisi Tom Lembong. Dua nama, dua latar berbeda, namun satu semangat: memulihkan, bukan memenjarakan dendam.
Langkah ini mungkin tidak akan memuaskan semua pihak. Kritik pasti datang. Namun sejarah akan mencatat bahwa di tengah riuh politik dan kecurigaan, ada presiden yang mengambil jalan maaf. Jalan yang tak populer, tapi bijak. Jalan yang tidak selalu dimengerti hari ini, namun bisa dimuliakan esok hari.
Yusril Ihza Mahendra, Menko bidang hukum, menyebut langkah ini sah menurut konstitusi. Tapi lebih dari sah secara hukum, keputusan ini sah secara batin—bagi mereka yang percaya bahwa hukum harus ditegakkan, namun keadilan juga harus dirasakan.
Maka, mari kita lihat amnesti ini bukan sebagai akhir dari pertanggungjawaban, melainkan awal dari kesadaran baru. Semoga mereka yang mendapat amnesti bisa menulis lembar sejarah yang lebih jujur, lebih bersih, lebih bermanfaat.
Dan untuk kita semua, semoga ini menjadi pelajaran: bahwa bangsa besar bukan hanya karena hukum yang keras, tetapi karena pemimpin yang berhati luas.

