![]()
Gelombang demonstrasi yang terjadi belakangan ini seakan menunjukkan wajah lama politik kita: sebagian pihak begitu bernafsu menolak setiap langkah pemerintah, seolah-olah tidak ada satu pun kebijakan yang pantas diapresiasi. Kritik memang penting dalam demokrasi, tetapi kritik yang lahir dari kebencian abadi hanya akan melahirkan kebuntuan.
Prabowo dan Gibran jelas bukan manusia sempurna. Namun, kepemimpinan mereka baru berjalan, dan data survei menunjukan kepuasan publik masih tinggi di kisaran 80 persen. Artinya, mayoritas rakyat justru merasakan manfaat dan berharap program-program itu berjalan. Apakah suara mayoritas harus selalu ditutupi oleh narasi minoritas yang paling bising?
Ironisnya, mereka yang menolak kerap tidak menghadirkan solusi nyata. Menolak, mencaci, bahkan memutarbalikkan fakta dijadikan “senjata politik”. Padahal negara ini tidak akan maju jika sebagian warganya sibuk menyalakan api tanpa menawarkan air.
Kritik yang sehat mestinya membangun, bukan sekadar menjatuhkan. Pemerintah layak didukung selama jalannya menuju kesejahteraan rakyat. Mengabaikan setiap capaian hanya karena fanatisme politik masa lalu adalah sikap yang kontraproduktif.
Mari belajar membedakan antara oposisi yang cerdas dan oposisi yang sekadar mengumbar kebencian. Sebab, kalau pemerintah selalu salah di mata Anda, lalu kapan Anda mau benar di hadapan bangsa?
- Jangan Biarkan Program Irigasi Menjadi Proyek Formalitas, Kepala Desa Jangan Intervensi
- Era Prabowo Menuntut Mutu, Bukan Proyek Asal Jadi Apalagi Jika Ada Oknum Yang Memback Up
- 25 Ribu Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah Padati Gedung Dewi Sri Purwodadi, KH Muchtar Mu’thi Tekankan Jaga NKRI dan Perdalam Ilmu Agama
- Diduga Lakukan Pemerasan hingga Tahan SHM, ED Sang Rentenir Warga Kwangen Gemolong Resmi Dilaporkan ke Polisi
- Gotong Royong Mengalir untuk Pembangunan Ponpes SAPU JAGAD Gemolong, Puluhan Relawan dan Donatur Ambil Bagian




