Ketika Tubuh Berteriak, Padahal Jiwa yang Luka — Memahami Psikosomatik Secara Menyeluruh

Ketika Tubuh Berteriak, Padahal Jiwa yang Luka — Memahami Psikosomatik Secara Menyeluruh

Loading

Opini|Redaksi

Editor|Rian Derasta 

Keluhan seperti lemas, mual, sulit tidur, bahkan jantung berdebar, bisa saja tak ditemukan sebab medis yang jelas. Tapi bukan berarti si penderita berpura-pura. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai psikosomatik — gangguan fisik yang berasal dari tekanan psikologis atau emosional.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Psikosomatik, E. Mudjaddid, menegaskan: “Psikosomatik bukan akal-akalan. Emosi negatif seperti kecemasan dan trauma bisa menjelma menjadi keluhan fisik yang nyata.”

Hal ini menampar keras paradigma masyarakat yang masih menganggap pengidap psikosomatik sebagai ‘pencari perhatian’. Padahal, mereka justru berteriak lewat tubuh karena jiwanya tak mendapat ruang untuk bicara.


Gejala yang Menyesatkan

Pasien psikosomatik seringkali tampak sehat secara medis. Pemeriksaan laboratorium normal, organ tubuh tidak menunjukkan kerusakan, namun penderitaan tetap terasa.

Gejala bisa berpindah: dari sakit lambung ke pusing, dari susah tidur ke jantung berdebar, bahkan rasa lemas yang muncul tiba-tiba. Ini semua bukan ilusi, melainkan ekspresi jiwa yang penuh tekanan — dari pekerjaan, keluarga, hingga masalah finansial atau relasi sosial.


Bukan Sakit Jiwa, Tapi Luka Emosional

Penting ditegaskan, psikosomatik bukan gangguan kejiwaan berat seperti skizofrenia. Pasien masih sadar penuh dan tidak kehilangan identitas diri. Namun, mereka menyimpan luka emosional seperti rendah diri, penolakan, atau trauma masa lalu.

Ketika tidak ditangani, keluhan ini bisa berubah menjadi penyakit organik sesungguhnya, misalnya gangguan lambung kronis, tekanan darah tinggi, hingga serangan jantung.


Empati Lebih Penting daripada Obat

Di Bethsaida Hospital, penanganan psikosomatik dilakukan dengan pendekatan empat dimensi:

  1. Bio-Organik: Pemeriksaan fisik dan obat.
  2. Psiko-Edukasi: Hubungan suportif antara dokter dan pasien.
  3. Sosio-Kultural: Membantu menyelesaikan konflik sosial.
  4. Spiritual: Memberi makna atas penderitaan melalui pendekatan keagamaan.

Direktur rumah sakit, Pitono, menyebut ini sebagai upaya menyentuh sisi “batin pasien, bukan hanya tubuhnya”.


Kenapa Kita Harus Peduli?

Karena siapa pun bisa mengalaminya. Bahkan tokoh sekelas BJ Habibie pernah mengalami gangguan psikosomatik setelah ditinggal Ainun. Maka, mari berhenti menghakimi dan mulai peduli. Jangan buru-buru menyimpulkan seseorang berpura-pura sakit. Mungkin dia sedang berjuang — diam-diam — agar jiwanya tetap utuh.


Penutup

Masyarakat butuh lebih banyak edukasi tentang psikosomatik. Ini bukan sekadar istilah medis, tapi fenomena sosial-psikologis yang nyata. Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, tubuh kita bisa menjadi pelampiasan dari jiwa yang sudah terlalu penuh. Saatnya kita lebih peka, lebih empatik, dan lebih siap mendengarkan — tidak hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati.