![]()
SENI RODAD
SRAGEN – Seni tradisional rodad yang berasal dari Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, kembali mencuri perhatian publik. Meski perhatian dari pemerintah hingga elite politik terhadap seni budaya dinilai masih memprihatinkan, sejumlah tokoh budaya dan pegiat media memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian kesenian ini.

Tokoh budaya Keraton Surakarta Hadiningrat, Gusti Puger dan BRM Kusumo Putro, mengapresiasi semangat para pelaku seni di Sragen yang konsisten melestarikan budaya warisan leluhur. Menurut Kusumo, perhatian terhadap seni tradisi masih sangat minim, baik dari pemerintah maupun kalangan politisi.
“Generasi muda kini banyak yang gandrung pada gadget. Jika dibiarkan, mereka akan makin jauh dari seni budaya tradisional. Padahal budaya adalah identitas bangsa,” ujar Kusumo, yang juga Ketua Budaya Putra Mataram, Surakarta.
Kusumo juga menyoroti kemunculan kembali seni rodad di Miri yang digerakkan oleh Awi CS. Meski dengan keterbatasan fasilitas, antusiasme warga terhadap pertunjukan ini cukup tinggi. Ia menilai upaya tersebut sebagai bentuk nyata mempertahankan warisan budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Senada dengan Kusumo, pegiat budaya muda Sragen, Ki Carang, menekankan bahwa kebudayaan merupakan pondasi dalam membangun generasi bangsa. Ia menilai nasionalisme tidak akan tumbuh tanpa budaya.
“Tak ada budaya, maka tak ada nasionalisme. Untuk Mas Awi dan kawan-kawan, kami support penuh pelestarian seni budaya ini. Budaya harus dikenalkan sejak anak-anak, karena mereka punya kecerdasan jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” ucapnya.
Ki Carang juga menyinggung perbedaan apresiasi budaya di luar negeri. Menurutnya, ketika seniman Indonesia tampil di Kanada, Amerika, Prancis, Rusia, China, hingga India, penonton asing begitu menghargai kebudayaan nusantara. Namun ironisnya, perhatian di dalam negeri justru kurang.
Sementara itu, Rianto, Pemerhati Sosial asal Kota Susu Boyolali, menilai masyarakat masih banyak yang salah kaprah memahami seni dan budaya. Menurutnya, keduanya adalah entitas yang berbeda, meski sama-sama bagian dari kebudayaan.
“Kebudayaan terkait erat dengan Pancasila dan UUD 1945. Namun perilaku sebagian orang justru tidak mencerminkan itu. Karena itu, upaya Mas Awi dan rekan-rekan yang membangkitkan seni rodad patut didukung. Agar generasi Z tertarik, perlu dikemas secara modern, bahkan melibatkan pemain perempuan seperti di Purworejo,” tandas Rianto.
Meski berbagai tokoh memberikan apresiasi, mereka tetap berharap pemerintah dan elite politik tidak abai. Menurut mereka, seni dan budaya harus ditempatkan pada posisi strategis dalam pembangunan bangsa, agar identitas nasional tidak semakin terkikis dan direbut oleh negara lain.
Kontributor|Awi







- KDMP dan MBG: Mampukah Koperasi Desa Merah Putih Menghalau Tangan-Tangan Serakah di Rantai Pangan?
- Saya Mendukung MBG, Tetapi Supplier yang Serakah dan Tamak Sedang Mendiskreditkan Ekonomi Lokal
- Rembug Stunting dan Sambut KKN, Desa Nglinggi Perkuat Kolaborasi Wujudkan Generasi Emas dan Desa Berdaya
- Mau Dikonfirmasi Usai Acara Perpisahan, Oknum Kepala Sekolah di Sragen Diduga Intimidasi Aktifis dan Awak Media
- Danramil 24/Klaten Utara Ikut Kukuhkan Desa Bersinar, Perang Melawan Narkoba Dimulai dari Akar Rumput




