Membuka Tirai Kebenaran

Peringati Hari Kartini di Tengah Pandemi Virus Covid-19: Hai Apa Kabar Wanita Indonesia? Ini Yang Kalian Rindukan

2 min read

OPINI, Hari Kartini selalu dirayakan setiap 21 April di Indonesia.

Namun, tahun ini tampaknya perayaan akan berbeda karena diperingati di tengah pandemi virus corona.

Hari Kartini diperingati untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, sang pahlawan emansipasi wanita.

Kartini memperjuangkan hak-hak wanita yang dianaktirikan, menjadi suatu pengakuan, di mana para wanita juga bisa turut mengusahakan dan berkontribusi pada sekitar dan negara, sama seperti laki-laki.

Perjuangannya inilah yang semangatnya selalu dikobarkan setiap 21 April.

Perayaan Hari Kartini di setiap wilayah memang berbeda-beda, namun apapun tradisinya, tahun 2020 ini tampaknya menjadi terbatas untuk dilakukan bersama.

Pandemi virus corona yang membuat kita harus mengurangi aktivitas di luar rumah, dan tak bisa melihat atau menjalankan tradisi Hari Kartini seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di lansir dari Tribunjogja.com rangkumkan sederet tradisi di Hari Kartini yang akan dirindukan di tengah pandemi virus corona, dari berbagai sumber:

1. Parade pakaian adat

Ya, Hari Kartini memang biasanya diramaikan dengan parade atau pawai para siswa mengenakan pakaian adat nusantara,

Di sejumlah daerah, parade ini umum dilakukan di jalan-jalan sekitar sekolah atau tingkat kecamatan.

Peserta lomba mengayuh becak di acara mengayuh becak yang diselenggarakan KPK di Alkid, Solo, Sabtu (21/4/2018). (tribun jateng/ akbar hari mukti)

Para siswa akan berjalan bersama-sama mengenakan pakaian adat dari Sabang sampai Merauke sambil membawa bendera merah putih.

Jika paradenya di tingkat yang lebih luas, mungkin ada juga siswa yang sudah sedari subuh datang ke salon untuk didandani mengenakan pakaian adat yang disewakan.

2. Upacara

Upacara mengenakan pakaian adat ini memang tidak diselenggarakan semua sekolah, ada yang iya dan ada pula yang tidak.

Para siswa akan mengikuti upacara biasa, namun mengenakan pakaian adat. Setelah itu, biasanya dilanjutkan dengan parade.

Mengingat adanya larangan untuk berkumpul dan sekolah diliburkan, upacara mengenakan pakaian adat akan sulit dilakukan.

Tak hanya siswa, perkantoran juga beberapa ada yang mengadakan upacara. Meski tak mengenakan pakaian adat, pegawai wanita biasanya mengenakan kebaya.

3. Perlombaan unik

Di Yogyakarta, Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman ada lomba balap gerobak sapi yang rutin dilakukan setiap Hari Kartini.

Pesertanya adalah para wanita. Emak-emak ini akan bertanding dan jumlah pesertanya bisa hingga puluhan.

Selain itu, ada juga lomba olahraga yang pesertanya khusus wanita yang mengenakan kebaya.

Di Surabaya misalnya, ada pertandingan tenis dengan syarat pesertanya mengenakan kebaya.

5. Pemandangan para wanita berkebaya di jalan-jalan umum

Hari Kartini dan kebaya seolah tak bisa dilepaskan. Beberapa perkantoran baik negeri maupun swasta, biasanya mempersilakan karyawan wanitanya untuk mengenakan kebaya ke kantor.

Otomatis, pemandangan ini sering dijumpai di jalan-jalan umum maupun transportasi umum.

Namun, mengingat sebagian besar sudah menerapkan work from home atau bekerja dari rumah, maka tradisi ini tidak akan semeriah sebelumnya.

Sebagai gantinya, mungkin para wanita bisa meramaikan media sosial masing-masing dengan mengunggah foto berkebaya untuk memperingati Hari Kartini.

Selain karyawati yang menggunakan kebaya, di beberapa kota besar, wanita-wanita berkebaya juga turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka atau berbagi dengan sesama.

(Tribunjogja.com | Fatimah Artayu Fitrazana)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.