![]()
SRAGEN – Polemik masuknya jaringan milik Tower Bersama Group (TBG) di wilayah Desa Jenggrik, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, terus bergulir. Setelah sebelumnya mencuat isu miskomunikasi, kini pelaku usaha wifi lokal menyatakan tidak pernah menerima undangan dalam pertemuan RT yang digelar Minggu (15/2/2026).
Konfirmasi tersebut disampaikan salah satu perwakilan pengusaha wifi rakyat kepada media ini, Senin (16/2/2026). Ia menegaskan, dirinya bersama enam pelaku UMKM digital lain tidak dilibatkan dalam forum RT se-Desa Jenggrik.

“Kami tidak menerima undangan. Kalau memang diundang dan duduk bersama masyarakat, kami siap menyampaikan aspirasi secara terbuka,” ujarnya.
Baca Juga: Masuknya TBG di Kedawung Picu Miskomunikasi, UMKM Wifi Lokal Merasa Dikambinghitamkan
Ajukan Tiga Poin Aspirasi
Dalam keterangannya, para pelaku UMKM wifi menegaskan tidak menolak pembangunan infrastruktur. Namun mereka berharap ada musyawarah sebelum kebijakan berjalan, mengingat usaha mereka telah beroperasi sejak 2013 dan memiliki pelanggan tetap di wilayah tersebut.
Adapun tiga poin yang ingin mereka sampaikan dalam forum resmi antara lain:
1. Penataan Tiang Agar Rapi dan Efisien
Mereka mengusulkan agar penggunaan tiang jaringan cukup satu titik dan dimanfaatkan bersama demi menjaga estetika bahu jalan serta kerapian lingkungan.
2. Pemanfaatan untuk Penerangan Jalan
Tiang wifi diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pemasangan lampu penerangan jalan, selama tidak mengganggu distribusi jaringan internet.
3. Kompensasi Pemberdayaan Masyarakat
Mereka juga mengusulkan adanya kompensasi rutin bagi karang taruna atau RT setempat sebagai bentuk kontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat.
“Kami ini bukan anti-investasi. Kalau bisa dimusyawarahkan, tentu lebih baik. Kami ingin pembangunan berjalan, tapi UMKM lokal juga tetap diperhatikan,” tambahnya melalui sambungan seluler.
Klarifikasi Kepala Desa
Terpisah, Kepala Desa Jenggrik Darmin saat dikonfirmasi Kamis (19/2/2026) melalui sambungan selulernya membantah bahwa pertemuan RT yang digelar Minggu lalu membahas persoalan wifi atau pembangunan tiang jaringan.
Menurutnya, agenda rapat tersebut murni membahas Laporan Pertanggungjawaban (LMPJ) Desa Jenggrik.
“Pertemuan RT itu bukan membahas berdirinya wifi. Itu tentang LMPJ desa. Untuk persoalan ini akan ada pertemuan khusus dan duduk bersama para pengusaha wifi,” jelas Darmin.
Ia memastikan pihak desa tidak berniat mengesampingkan pelaku usaha lokal dan berkomitmen membuka ruang dialog agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan.
Menunggu Forum Terbuka
Hingga berita ini diturunkan, belum ada jadwal resmi pertemuan khusus yang dimaksud. Warga berharap musyawarah dapat segera dilakukan agar polemik tidak meluas.
Masuknya TBG di wilayah Kedawung dinilai sebagai peluang peningkatan kualitas jaringan digital. Namun di sisi lain, keberadaan UMKM wifi rakyat yang telah tumbuh lebih dari satu dekade juga menjadi bagian dari denyut ekonomi desa.
Dinamika ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi lokal idealnya berjalan beriringan — bukan saling berhadapan.
Tim redaksi
- Coretax DJP: Era Baru Perpajakan, Wajib Pajak Harus Siap Beradaptasi
- Perkuat Integritas, Lapas Purwodadi Gaungkan Ikrar Bebas dari Narkoba dan HP Ilegal
- Prodi Manajemen Undha AUB Surakarta Raih Akreditasi “Unggul”, Bukti Kualitas Tembus Standar Nasional
- Wahana Taman Bunga Celosia Disorot, Diduga Belum Kantongi Izin Lengkap
- Gotong Royong Tanpa Batas, Warga dan TNI Bahu-Membahu Bangun Jembatan Garuda di Burikan

