Membuka Tirai Kebenaran

Tak Mampu Bayar SPP, Anak Yatim Ini Putus Sekolah Lalu Jualan Gandos, Begini Kondisinya

3 min read

Malu Sering Terlambat Bayar SPP, Anak Yatim Di Kudus Putus Sekolah Lalu Jualan Gandos


LSlamet Daryanto saat menjual gandos di Jalan Nitisemito, Senin (7/12/2019). Refrensi pihak ketiga

LintasIndoNews.com, Kudus – Gambaran kemiskinan terpatri pada seorang anak berusia 15 tahun asal Kudus, Jawa Tengah bernama Slamet Daryanto.

Di usia yang semestinya dia duduk di bangku sekolah, dia malah bekerja demi membantu penghasilan keluarga.

Di bekas bangunan gudang yang terletak di RT 1 RW 4 Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus, Slamet Daryanto tinggal bersama ibu dan neneknya yang sudah berusia 70 tahun.

Bangunan kurang layak tersebut ditinggali sejak enam tahun terakhir. Bangunan itu bukan milik mereka.

Tarif Rp 200 ribu dibayarkan per bulan kepada pemilik bangunan sebagai ongkos kontrak mendiami bekas gudang.

Di tempat yang berukuran sempit itu disulap menjadi rumah tinggal.

Sekat papan tripleks dipasang ruang tengah untuk memisahkan kamar dan ruang tamu.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruang untuk keluarga dan dapur.

Tidak nyaman memang, namun himpitan ekonomi membuat mereka terpaksa harus tinggal di tempat itu.

Saat ayah Riyan, sapaan Slamet Daryanto, masih hidup, ekonomi ditopang olehnya sebagai kepala keluarga.

Namun kondisi kian memburuk pada 2016 saat ayahnya meninggal.

Hingga akhirnya setahun kemudian, Riyan memutuskan untuk mengakhiri sekolahnya.

Saat itu dia duduk di bangku kelas VIII SMP.

“Dia malu kalau harus bayar SPP telat terus,” kata ibu Riyan, Andri Dwi Astuti (46), saat ditemui di tempat tinggalnya, Senin (7/1/2019).

Kini sudah dua bulan terkahir Riyan menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah.

Saat sore, dia mulai bergegas menuju Jalan Nitisemito untuk berjualan kue gandos.

Berjualan kue olahan santan dan kelapa itu dilakoninya sejak dua bulan belakangan.

“Dia berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Maka saya sarankan untuk bekerja, biar dia tidak terjerumus ke lingkungan yang kurang baik,” kata Dwi.

Pilihan Riyan untuk berjualan kue gandos bukan tanpa alasan.

Menurutnya, berjualan tidak butuh ijazah pendidikan.

Karena tak ada modal, akhirnya dia statusnya sebagai buruh orang lain untuk menjualkan kue gandos.

Dia mendapat upah per hari rata-rata Rp 30 ribu. Dia berjualan sejak pukul 16.00 WIB, setelah magrib biasanya dia baru mengakhirinya.

“Tergantung hasil jualan, kalau ramai saya dapat upah sampai Rp 40 ribu. Kalau sepi ya dapat Rp 20 ribu. Rata-rata dapatnya Rp 30 ribu,” kata Riyan.

Ibunya kini bekerja sebagai buruh rumah makan. Dia harus bekerja sejak pukul 05.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB.

Selanjutnya sore hingga malam dia harus kembali ke warung sampai petang untuk kembali melanjutkan pekerjaan.

Tempo waktu bekerja siang malam itu, dia hanya mendapat upah Rp 40 ribu per hari.

Kebutuhan itu dirasa kurang karena harus menanggung utang yang ditinggalkan oleh suaminya.

“Hasil upah jualan gandos saya berikan sebagain untuk kebutuhan rumah,” kata Riyan.

Keinginannya kembali mengenyam pendidikan oleh Riyan kian jauh.

Apalagi sampai saat ini belum ada sentuhan perhatian oleh pemerintah atas nasib keluarga mereka.

Namun Riyan dan ibunya tak patah arang. Mereka enggan meminta-minta. Mereka akan terus bekerja selama masih diberi anugerah kesehatan.

Melihat kondisi keluarga yang jauh dari kata sejahtera akhirnya banyak yang iba.

Rasa iba itu disalurkan dengan membeli kue gandos dagangan Riyan. Misalnya Laila Agusriah, perempuan berusia 21 tahun setelah tahu kondisi keluarga Riyan akhirnya membeli kue gandos yang dijajakan Riyan.

“Jajan gue gandos itung-itung melariskan dagangannya, biar cepat habis,” kata perempaun asal Kelurahan Desa Purwosari, Kecamatan Kudus. (*)

Sumber: Tribunjateng.com

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.