![]()
Di balik senyum bahagia orang tua yang mendengar anaknya lolos beasiswa, ada air mata yang tak terlihat. Bukan karena bahagia, tapi karena sang anak terpaksa berbohong. Demi kebaikan. Demi tidak menambah beban. Demi bisa tetap kuliah.
Fatimah bukan satu-satunya.
Ribuan mahasiswa di kampus negeri favorit mungkin menjalani skenario serupa. Mereka hadir dengan semangat, tapi menyimpan duka dalam diam. Mereka bukan generasi yang manja. Mereka adalah generasi yang memilih jalan sunyi: kuliah sambil kerja, bukan karena iseng, tapi karena terpaksa.
Baca juga: Gen Z + Stoikisme = Kombinasi Maut Anti Ambyar
Stoikisme dan Ketabahan Mahasiswa Bekerja
Dalam Stoikisme, dikenal sebuah prinsip: Amor Fati — mencintai takdir. Bagi para mahasiswa yang tak mendapat beasiswa, tapi tetap bertahan dengan kerja keras, prinsip ini hidup dalam setiap langkah.
Fatimah menerima nasib bahwa ia tidak lolos beasiswa. Tapi ia tidak menyesali. Ia justru memilih menjalani, bahkan menanggung beban ganda—kuliah dan bekerja—tanpa diketahui orang tuanya. Bukan karena ingin dipuji, tapi karena ia paham: menjadi kuat bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
Zeno, pendiri Stoikisme, pernah berkata, “Well-being is attained by little and little, and nevertheless is no little thing itself.” Ketabahan itu dibangun dari keputusan-keputusan kecil setiap hari: bangun pagi untuk kuliah, lalu kerja hingga malam, dan mengerjakan tugas di sela waktu. Sungguh bukan hal kecil.
Baca juga: Ketika Tubuh Berteriak, Padahal Jiwa yang Luka — Memahami Psikosomatik Secara Menyeluruh
Menjadi Sarjana Bukan Sekadar Gelar
Seringkali masyarakat memuja gelar, bukan proses. Tapi mahasiswa seperti Fatimah hidup justru dalam proses itu. Menjadi sarjana baginya bukan soal toga dan nama di ijazah, tapi bagaimana mengangkat martabat keluarga, setahap demi setahap, dengan keringat sendiri.
Dalam dunia yang begitu memuja kenyamanan, mereka adalah minoritas yang bersedia hidup tidak nyaman. Tidur seadanya, makan seringkali harus ditunda, bahkan tugas kuliah dikerjakan di sela waktu kerja. Tapi mereka tetap bertahan.
Sebab bagi mereka, kuliah bukan gaya hidup. Kuliah adalah perlawanan terhadap nasib.
Kampus, Jangan Lupakan Mereka
Ironisnya, di banyak PTN, mahasiswa seperti ini nyaris tak terlihat. Tak bersuara. Tak dianggap inspirasi. Padahal merekalah wajah asli dari pendidikan sebagai alat perubahan sosial.
Kampus semestinya peka, bukan hanya memberi panggung pada mahasiswa dengan IPK sempurna dan gaya hidup elite. Tapi juga membuka mata pada mereka yang diam-diam berjuang: yang tiap bulan memikirkan UKT, yang mencuci piring di kafe malam demi bisa ikut UTS.
Penutup: Menjadi Stoik di Zaman Serba Tergesa
Di tengah dunia yang serba instan, mahasiswa pekerja diam-diam adalah penganut stoik sejati. Mereka tahu hidup tidak selalu adil, tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Mereka memilih untuk tetap waras, tetap jujur pada diri sendiri, dan tetap berproses dalam diam.
Kita butuh lebih banyak Fatimah. Bukan untuk mengajarkan kita cara berbohong, tapi untuk menyadarkan: bahwa di balik kampus megah, ada kisah perjuangan senyap yang layak dihormati.

