Membuka Tirai Kebenaran

Relawan Gunung Lawu: Jaga Kelestarian Alam, Tolak Keras Trail Trabas

2 min read

Para Relawan Gunung Lawu

(foto refrensi pihak ketiga) 

LintasIndoNews.com | Karanganyar – Keberadaan gunung Lawu yang membelah kota di dua propinsi Karanganyar (Jawa Tengah) dan Magetan (Jawa Timur) harus tetap dijaga kelestariannya. Selama ini keberadaan gunung Lawu sangat disakralkan oleh masyarakat Jawa khususnya. Kearifan lokal, keheningan Lawu, suasana alam Lawu dengan beragam puspa (bunga) dan biotanya tetap diupayakan kelestariannya. Sayangnya keheningan Lawu belakangan ini mulai terusik dengan keberadaan trail trabas hingga ke puncak Lawu dan menjadi viral di media sosial.

Prihatin kondisi tersebut munculah petisi yang digulirkan oleh masyarakat peduli gunung Lawu yang mengatasnamakan Relawan Gunung Lawu di situs website www.change.org. Sejauh ini sejak diluncurkan beberapa hari lalu hingga malam ini sudah mencapai 7400 orang memberikan dukungan penolakan trail trabas ke puncak Lawu. Dukungan penolakan juga dilakukan oleh Dewan Pemerhati Seni dan Budaya (DPPSBI) Jawa Tengah.
Melalui ketuanya Kusumo Putro disampaikan di atas kawasan Lawu banyak ditemukan benda yang berasal dari kebudayaan masa lalu dan belum semuanya tereksplore oleh pemerintah,

“Khawatirnya keberadaannya bisa rusak karena sembarangan orang bisa seenaknya membuka jalur trail tanpa mengetahui kondisi di wilayah Lawu,” paparnya Minggu (4/8/2019).

Ditambahkan Kusumo banyaknya temuan candi kuno yang belum tereksplore seluruhnya. Butuh banyak waktu untuk petugas dari dinas terkait untuk melakukan penelitian. Sehingga dirinya berinisiatif untuk mendaftarkan gunung Lawu sebagai lanscape cagar budaya di BPCB Jawa Tengah pada tahun 2017 lalu.

“Kita peduli akan peninggalan kejayaan masa lalu yang bisa membukan tabir sejarah. Perlu waktu lama untuk melakukan penelitian. Sehingga hal itu menjadi dasar kami daftarkan Lawu adalah bentuk dukungan kami akan kelestarian situs dan budaya yang ada di Lawu agar tidak hilang,” tegas Kusumo Putro.

Untuk diketahui dasar pendaftaran Lawu sebagai cagar budaya berdasarkan UU Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010 pasal 1ayat 5 yang berisi cagar budaya. Bahwa cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan atau air yang mengandung benda cagar budaya dan bagunan cagar budaya dan atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian masa lalu.

Karena di atas kawasan Lawu banyak ditemukan benda yang berasal dari kebudayaan masa lalu dan belum semuanya tereksplore oleh pemerintah maka untuk menyelamatkan benda benda purbakala yang ada di perut gunung Lawu maka gunung Lawu daftarkan oleh DPPSBI sebagai kawasan lanscape cagar budaya.

Gunung Lawu melahirkan peradaban. Terbukti di lereng gunung banyak terdapat peninggalan situs serta candi. Juga melahirkan tradisi budaya kearifan lokal yang sampai sekarang masih tetap terus dipertahankan oleh penduduk sekitar. (Bra/Tyo)

Sumber: Kusuma

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.