![]()
BERITA DESA
KARANGANYAR — Di antara denyut kehidupan Desa Tawangsari kecamatan kerjo kabupaten Karanganyar Jawa Tengah yang berjalan tenang, nama Martantyo Didik P. hadir sebagai sosok yang kerap ditemui bukan di balik meja, melainkan di tengah warga. Ia memilih menyapa lebih dulu, mendengar lebih lama, dan berbicara secukupnya—sebuah gaya kepemimpinan yang ia rawat sebagai bentuk pelayanan, bukan sekadar jabatan. Selasa (19/05/2026)
Bagi Martantyo, desa bukan hanya ruang administrasi, melainkan ruang hidup yang menuntut kehadiran. Ia percaya, pelayanan yang baik lahir dari kedekatan: dari langkah kaki yang menyusuri dusun ke dusun, dari percakapan sederhana di beranda rumah warga, hingga dari kesediaan untuk mendengar tanpa tergesa.
“Yang dibutuhkan warga sering kali bukan jawaban cepat, tapi kesediaan untuk benar-benar didengar,” ucapnya pelan.
Di balik sikapnya yang cenderung tenang, tersimpan prinsip yang ia pegang: bahwa pemerintah desa harus menjadi wajah yang ramah, mudah dijangkau, dan tidak berjarak. Ia menghindari sekat formalitas yang kaku, menggantinya dengan pendekatan yang lebih luwes dan manusiawi.
Warga mengenalnya sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, namun hadir saat dibutuhkan. Dalam banyak kesempatan, ia memilih turun langsung—menyaksikan, menyerap, lalu merespons dengan cara yang menurutnya paling tepat. Baginya, pelayanan bukan sekadar menyelesaikan urusan, melainkan menjaga rasa percaya.
Perjalanan kepemimpinannya pun tak ia tempatkan sebagai ambisi pribadi. Ia menyebutnya sebagai bentuk pengabdian yang mengalir, mengikuti kehendak masyarakat. Jika kelak langkah itu diminta berlanjut, ia mengaku siap. Namun jika tidak, ia tetap percaya bahwa pelayanan kepada warga tak selalu harus melalui jabatan.
“Selama masih bisa bermanfaat, di situlah tempat saya berdiri,” katanya.
Di Tawangsari, pelayanan barangkali tidak selalu hadir dalam bentuk yang gemerlap. Ia tumbuh pelan, dalam kesederhanaan, dalam sapaan yang tulus, dan dalam kehadiran yang konsisten. Di sanalah, Martantyo Didik P. menenun perannya—bukan sebagai pusat, melainkan sebagai bagian dari kehidupan warganya.
-
Diduga Banyak Penerima Ganda Bantuan Sapi Desa Bagor hingga Pencatutan Nama, LAPAAN RI: "Kalau Terbukti, Ini Harus Diusut Tuntas" -
Bantuan Sapi Rp400 Juta Desa Bagor, Nama Warga Diduga Dicatut Demi Bantuan? Pengakuan Penerima Baru Buka Fakta Mengejutkan -
Seragam Dijual di Koperasi SMP Negeri Grobogan, Ketua MKKS Angkat Bicara, Pengawasan Dinas Dipertanyaka -
Kirab Budaya dan Jamasan Gamelan Meriahkan Sriwedari, Solo Teguhkan Identitas Jadi Kota Budaya -
Diduga Ada Aliran Anggaran Hampir Rp1 Miliar ke Lahan Wisata Wilayah Desa Lain Milik Pribadi, LAPAAN RI Ungkap Temuan Baru di Desa Kadipaten
- Diduga Banyak Penerima Ganda Bantuan Sapi Desa Bagor hingga Pencatutan Nama, LAPAAN RI: “Kalau Terbukti, Ini Harus Diusut Tuntas”
- Bantuan Sapi Rp400 Juta Desa Bagor, Nama Warga Diduga Dicatut Demi Bantuan? Pengakuan Penerima Baru Buka Fakta Mengejutkan
- Seragam Dijual di Koperasi SMP Negeri Grobogan, Ketua MKKS Angkat Bicara, Pengawasan Dinas Dipertanyaka
- Kirab Budaya dan Jamasan Gamelan Meriahkan Sriwedari, Solo Teguhkan Identitas Jadi Kota Budaya
- Diduga Ada Aliran Anggaran Hampir Rp1 Miliar ke Lahan Wisata Wilayah Desa Lain Milik Pribadi, LAPAAN RI Ungkap Temuan Baru di Desa Kadipaten

