![]()
SUARA MAHASISWA
Memasuki dunia perkuliahan hukum, kita sering dihadapkan pada perbedaan cara pandang dan gaya berkomunikasi. Tidak jarang hal yang sepele, seperti urusan absensi, bisa menjelma menjadi perdebatan panjang yang membakar energi. Hal ini sebenarnya wajar—kita semua sedang belajar, mencari bentuk, dan menguji cara menyampaikan argumen.
Namun, perlu diingat: belajar hukum bukan semata soal unjuk kepintaran, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri. Di sinilah kita bisa menengok filosofi stoikisme—satu ajaran yang menekankan pentingnya menerima hal-hal di luar kendali kita, sembari mengelola respons dan sikap dengan tenang, rasional, dan proporsional.
Stoikisme mengajarkan: tidak semua hal perlu diperbesar. Jika ada aturan sederhana dalam kelas, cukup dijalani tanpa perlu didramatisasi. Sebaliknya, jika ada kekeliruan, cukup diingatkan dengan tenang tanpa merendahkan orang lain. Tujuan kita bukan sekadar menang argumen, melainkan membangun reputasi akademik dan karakter yang terhormat.
Kita, sebagai mahasiswa hukum semester awal, seharusnya mulai menanamkan kebiasaan ini: berbicara seperlunya, mendengar sebanyak-banyaknya, dan memilih pertempuran yang benar-benar penting. Sebab kelak, yang akan diingat bukan seberapa sering kita berdebat di grup WhatsApp, melainkan seberapa jauh kita bisa membawa diri secara bijak di ruang sidang, forum akademik, maupun kehidupan sosial.
Mari belajar hukum dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Jika kita mampu menggabungkan kecerdasan hukum dengan kebijaksanaan stoikisme, maka bukan hanya kampus yang bangga pada kita, melainkan masyarakat pun akan melihat bahwa mahasiswa hukum mampu menjadi teladan intelektual sekaligus pribadi yang dewasa.
Penulis|Mahasiswa Baru di UBY









